RSLI Terima i-nose C-19, Alat Deteksi Covid-19 Berbasis Sensor Bau Keringat Ketiak

Yovie Wicaksono - 27 February 2021
Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Terima i-nose C-19, Alat Deteksi Covid-19 Berbasis Sensor Bau Keringat Ketiak, Jumat (26/2/2021). Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) pada Jumat (26/2/2021), menerima dukungan alat i-nose C-19  ITS, yakni alat deteksi Covid-19 berbasis sensor bau keringat ketiak (axillary sweat odor).

Alat pendeteksi tersebut merupakan karya guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Riyanarto Sarno beserta tim yang terdiri dari mahasiswa jenjang magister dan doktoral.

Dalam paparannya, profesor yang akrab disapa Ryan ini menjelaskan bahwa i-nose c-19 bekerja dengan cara mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

“Keringat ketiak adalah non-infectious, yang berarti limbah maupun udara buangan i-nose c-19 tidak mengandung virus Covid-19,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, alat ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi skrining Covid-19 lainnya, seperti sampling dan proses berada dalam satu alat, sehingga seseorang dapat langsung melihat hasil skrining pada i-nose c-19. Hal ini tentunya menjamin proses yang lebih cepat.

“i-nose c-19 juga dilengkapi fitur near-field communication (NFC), sehingga pengisian data cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat Covid-19 ini,” jelasnya.

Selanjutnya, Ryan menjelaskan bahwa data dalam i-nose c-19 terjamin handal karena penyimpanannya pada alat maupun cloud. Penggunaan cloud computing mendukung i-nose c-19 dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit, maupun laboratorium.

Dengan berbagai kelebihan yang ada, i-nose c-19, karya anak bangsa, hadir untuk menjawab tantangan pandemi Covid-19 yang belum terkendali. Selain terjamin dari segi biaya karena menggunakan komponen teknologi yang murah, i-nose c-19 juga tidak membutuhkan keahlian khusus dalam implementasinya.

“Scanner ini dapat dilakukan oleh semua orang dengan perangkat pengaman yang lebih sederhana yakni hanya sarung tangan dan masker sebagai perlindungan dasar,” tuturnya.

Sampai saat ini, i-nose c-19 sebagai inovasi alat pendeteksi Covid-19 melalui bau keringat ketiak telah sampai pada fase satu uji klinis.

Pihaknya mengatakan, depan akan ditingkatkan lagi data sampling-nya untuk izin edar dan dapat disebarluaskan ke seluruh faskes yang ada di tanah air atau juga dapat dikomersialkan ke masyarakat.

Menanggapi presentasi sekaligus menerima prototipe i-nose C-19, Penanggungjawab Rumah Sakit Lapangan Indrapura Surabaya, Laksamana Pertama TNI dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara, sangat mengapresiasi inovasi alat tersebut.

Menurutnya, banyaknya lembaga atau institusi yang terus melakukan riset penemuan alat deteksi Covid-19 sangat membantu sekali, khususnya bagi rumah sakit yang terus menangani Covid dari sisi medis.

“Silahkan terus dikembangkan dan disempurnakan, semoga alat tersebut segera mendapatkan izin dan legalisasi dari pihak terkait. Kami siap membantu untuk proses tersebut. Untuk pengoperasian di RSLI silahkan berkoordinasi dengan relawan pendamping pada Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 RSLI, yang kebetulan juga personilnya banyak berasal dari ITS,” ujar Nalendra.

Pada kesempatan tersebut, i-nose C-19 juga diujicobakan langsung kepada Relawan Nakes, Dr Ega dan Relawan Pendamping, Radian Jadid. Mulai dari pengoperasian alat, input data, pemasangan selang di ketiak, hingga pengolahan data hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 5 menit.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, hasil tes dari  i-nose C-19 tersebut saat itu juga (realtime) dikirimkan ke nomor telepon atau WhatsApp dr.Ega dan Radian Jadid berupa sertifikat dengan format pdf. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.