Rembesan Membesar, PU Tebalkan Tanggul Lapindo Sidoarjo

Rudy Hartono - 24 June 2026
Kondisi tanggul penahan lumpur di kawasan Lumpur Lapindo, Sidoarjo, yang berbatasan langsung dengan Jalan Raya Porong dan juga jalur kereta api tengah diperkuat menggunakan material lumpur, Sabtu (13/06/2026). (net)

SR, Sidoarjo – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengambil langkah cepat untuk memperkuat infrastruktur penahan semburan lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Pemerintah memutuskan untuk mempertebal struktur tanggul hingga 30 sentimeter setelah adanya laporan mengenai rembesan air yang kian membesar dalam beberapa waktu terakhir.

Melansir kompas.com, langkah penebalan ini difokuskan pada Titik 68 yang berada di perbatasan wilayah Desa Glagaharum, Kecamatan Porong, dan Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Upaya mempertebal dinding pembatas ini menjadi prioritas utama guna memastikan stabilitas tanggul tetap terjaga, sekaligus memulihkan sistem kendali air di area kolam penampungan utama.

Warga Kondisi di Titik 68 belakangan memang memicu kekhawatiran baru bagi warga sekitar. Jika sebelumnya rembesan hanya memicu area basah di dinding pembatas, kini volume air terpantau meningkat dan tampak mengalir deras dari kaki tanggul.

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak mengaku dibayangi trauma masa lalu terkait insiden jebolnya tanggul penahan lumpur tersebut.

“Awalnya hanya terlihat basah. Tapi semakin hari semakin parah sehingga terlihat airnya mengalir dari titik rembesan itu,” ujar Matraji, salah seorang warga sekitar lokasi, Selasa (23/6/2026).

Warga sangat berharap perbaikan permanen dan penguatan fisik tanggul ini segera rampung. Mereka khawatir jika kebocoran tidak segera ditangani dengan memperkuat struktur bangunan, insiden tanggul ambrol bisa kembali terulang sewaktu-waktu.

Penyebab Kebocoran Penyumbatan Saluran V-Notch

Merespons situasi tersebut, tim dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU langsung turun ke lapangan untuk melakukan inspeksi. Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU, Nalfian, menjelaskan bahwa aliran rembesan muncul akibat adanya kendala teknis pada sistem drainase internal tanggul, mirip dengan kejadian pada tahun 2024 lalu.

Menurut Nalfian, di lokasi tersebut sebenarnya telah dipasang sistem pengendalian berupa saluran pengarah rembesan serta alat ukur debit air berbentuk V-Notch yang terhubung dengan box culvert. Sistem ini berfungsi untuk mengendalikan dan mengarahkan aliran air agar tetap berada di jalur aman.

“Saat kami cek sepertinya mengalami penyumbatan, hingga air tidak bisa mengalir melalui jalur yang sudah disiapkan,” kata Nalfian saat meninjau lokasi, Selasa.

Akibat sumbatan tersebut, air tidak dapat mengalir sebagaimana mestinya dan mencari jalur alternatif lain hingga akhirnya menyembur ke permukaan di sekitar area kaki tanggul.

Penebalan 30 Cm 

Meski terjadi kebocoran, Kementerian PU menegaskan bahwa debit air yang keluar masih dalam batas aman dan relatif sama dengan debit yang selama ini terukur dalam sistem pengendalian.

Fenomena ini dinyatakan tidak mengindikasikan adanya ancaman langsung terhadap stabilitas utama tanggul. Sebagai langkah penanganan jangka pendek, air rembesan kini telah dialirkan ke parit di sekitar lokasi agar tidak meluap ke pemukiman warga.

Sementara untuk penanganan permanen, pemerintah fokus pada penguatan fisik dan struktur penahan lumpur.

Selain memperbaiki sistem saluran yang tersumbat, Kementerian PU mempertebal tanggul hingga 30 sentimeter di titik-titik rawan. Tak hanya itu, langkah peninggian tanggul juga terus dilakukan secara berkala.

Upaya penebalan dan peninggian struktur ini dinilai sangat krusial untuk mengompensasi fenomena penurunan tanah (subsidence) yang terus terjadi di sejumlah titik elevasi kolam penampungan lumpur Lapindo demi menjamin keamanan jangka panjang. (*/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.