Cegah Hepatitis B Sejak Dini dengan Skrining dan Imunisasi

Yovie Wicaksono - 13 September 2019
Ilustrasi. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Guru besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Maria Lucia Inge Lusida menyebutkan, Indonesia memiliki prevalensi hepatitis B sedang hingga tinggi, serta endemisitas yang bervariasi antar provinsi.

Tingginya prevalensi hepatitis B di beberapa daerah disebabkan karena adanya isolasi geografis. Beberapa kelompok masyarakat di daerah terpencil di Indonesia masih mengalami kesulitan memperoleh akses layanan kesehatan yang layak.

“Prevalensi di tiap daerah tidak sama. Hepatitis B itu bisa kronis dan menuju kanker hati, itu yang ditakutkan. Apalagi yang tertinggi penularannya itu sejak bayi, yakni dari ibu ke anaknya. Itu yang hampir bisa dikatakan tidak bisa sembuh, dia akan bawa terus seumur hidup,” ujarnya pada Jumat (13/9/2019).

Hingga saat ini diperkirakan 240 juta orang terinfeksi hepatitis B kronis di seluruh dunia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2017, sebanyak 7,1 persen penduduk Indonesia diduga mengidap penyakit hepatitis B.

Perlu diketahui, terdapat dua cara penularan hepatitis B, yaitu melalui penyebaran vertikal, yakni proses persalinan ibu pengidap hepatitis B pada bayi yang dilahirkannya serta penyebaran horisontal melalui tindakan yang memungkinkan perpindahan cairan tubuh (darah atau air mani) dari orang yang terinfeksi Virus Hepatitis B (VHB) ke tubuh orang yang sehat.

95 persen penularan Hepatitis B adalah secara vertikal yaitu dari ibu yang positif Hepatitis B ke bayi yang dilahirkannya (Infodatin, 2017).

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, setiap tahunnya diperkirakan terdapat 120 ribu bayi yang terlahir dengan menderita hepatitis B, dan 95 persen diantaranya berpotensi mengalami hepatitis kronis yang berdampak pada risiko kanker hati.

Sebagai pencegahan, ibu hamil dianjurkan untuk melakukan skrining (deteksi dini) hepatitis B. Ibu hamil yang menderita hepatitis B, sangat rentan menularkan virus hepatitis B kepada anak yang dilahirkan. Sebab selama proses melahirkan bayi, terjadi kontak darah antara ibu dengan anak. Disitulah rawan terjadi penularan hepatitis B. Namun, lebih dari 90 persen dari infeksi VHB saat persalinan dapat dicegah jika Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg)-positif ibu diidentifikasi.

“Pencegahannya semua ibu hamil harus skrining. Nanti kalau melahirkan, anaknya segera divaksinasi. Dulu tidak ada skrining untuk ibu hamil. Sekarang mungkin hampir semua sudah melakukan skrining hepatitis B,” ujarnya.

“Sekarang kan sudah ada program imunisasi nasional hepatitis B. Program nasional itu kan sudah dilaksanakan sejak 1997, artinya sudah 20 tahun lebih, ya. Jadi orang-orang yang usianya dua puluh tahun ke bawah mestinya prevalensinya rendah,” imbuhnya.

Apabila ibu hamil positif menderita hepatitis B, maka dokter yang menangani akan mendaftarkan bayi yang akan dilahirkan untuk mendapat vaksin HBIg (Hepatitis B Imunoglobulin/HBIg) dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.

Pemberian imunisasi pasif HBIg perlu dilakukan guna memberi perlindungan bayi dari bahaya terinfeksi hepatitis B. Selain itu bayi perlu diberi vaksin aktif HB0 untuk merangsang antibodi, sehingga tubuh bayi memiliki kekebalan yang dapat menangkal virus hepatitis B. Selanjutnya, bayi akan diberi vaksin kombinasi berupa vaksin difteri, pertusis, dan tetanus pada usia dua, tiga dan empat bulan.

Pemberian imunisasi yang terlambat akan memperbesar peluang infeksi VHB pada bayi. Sehingga, pencegahan sejak dini sangat penting dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi hepatitis B di kemudian hari. Mengingat hingga saat ini belum ada obat yang dapat benar-benar menyembuhkan hepatitis B secara total.

“Obat ada, tapi hanya bisa menekan jumlah virusnya sampai tidak terdeteksi. Tapi tidak berarti hilang sama sekali. Sampai saat ini obat-obatan tidak bisa menjangkau virus yang masuk sampai inti sel hati,” tandasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.