Refleksi Hari Museum Nasional: Kini Lebih Banyak Koleksi Replika, Cari Gampangnya Saja?

Rudy Hartono - 12 October 2024
(dari kiri) Vini Salma,Toetik Koesbardiati, Yanuar Firmansyah, Andriew Budiman, pembicara dalam diskusi peringatan Hari Museum Nasional di Museum Surabaya, Sabtu (12/8/2024). (foto: clara/superradio.id)

SR, Surabaya – Sebagian orang menilai koleksi otentik merupakan inti dari eksistensi sebuah museum, sementara yang lain berpendapat bahwa benda replika, narasi cerita dan pengalaman imersif mampu memperkaya narasi sejarah sekaligus memperluas daya tarik museum bagi generasi masa kini.

Menanggapi hal itu, Edukator Museum Surabaya, Yanuar Firmansyah menjelaskan, fakta dari bidang konservatif tentang representasi koleksi replika museum.

“Apa yang didisplay di museum itu idealnya, kalau punya dana, adalah replika koleksi. Kita boleh punya topi walikota yang asli dan otentik tapi yang didisplay idealnya adalah replikanya,” ujarnya saat menjadi narasumber acara diskusi peringatan Hari Museum Nasional di Museum Surabaya, Sabtu (13/10/2024).

Bukan tanpa alasan, Yanuar menyebut, untuk mendisplay koleksi dengan aesthetics maka tak lepas dari unsur cahaya, suhu dan kelembaban. Sedangkan, ada beberapa barang yang materialnya akan cepat rusak ketika terpapar cahaya lampu terlalu lama, terutama kain.

“Memang beberapa hal kita display sebenarnya buat mewakili. Contohnya, baju pegon. Kita ingin mengedukasi tentang tradisinya, bukan bajunya. Warisan budayanya adalah tradisi pengantin pegonnya, bukan fokus ke bajunya,” jelasnya.

Hal ini ditekankan Yanuar bahwa museum tak hanya menampilkan benda tetapi kebudayaan juga tradisi melalui narasi dan keterwakilan replika objek. Termasuk menggunakan teknologi audio visual terbarukan.

Sementara itu, Visual Director Butawarna Design Studio,  Andriew Budiman yang juga sebagai narasumber diskusi memaparkan, perdebatan itu muncul karena pergulatan antara fungsi museum sebagai konservasi, edukasi dan rekreasi. Ketiganya memiliki tegangan yang tarik menarik.

“Ini memang refleksi yang harus diperhatikan bersama. Ada museum yang preservatif (memelihara atau mempertahankan kondisi yang telah ada agar tidak sampai terjadi hal yang tidak baik) dan ada yang sangat liberal,” ujarnya.

Andriew mencontohkan,  museum di Australia aktif kegiatan untuk anak-anak. Berbicara soal transfer intangible (tidak memiliki wujud fisik) yang bisa saja pengalaman motorik itu merupakan cara paling efisien. “Sebaiknya kita tidak terjebak pada ideal dan baik tanpa melihat konteksnya. Bisa jadi setiap perdebatan itu sah tergantung konteksnya juga,” katanya.

Ia memaparkan, mulai sebelum merdeka banyak yang memperdebatkan apa itu Indonesia. Ada yang berfokus pada tradisional dan budaya. Ada yang fokus perkembangan modernitas. Kemudian ada Ki Hadjar Dewantara yang menawarkan jalan tengah, manusia Indonesia harus ingat budaya tapi harus maju dan modern pula.

“Perdebatan ini harus kita jaga. Terbiasa berbeda tapi tujuannya sama untuk melestarikan budaya. Jadi tau blind spotnya dimana agar lebih maju,” terangnya.

Menyimpulkan dari diskusi ini, pemateri ketiga, Direktur Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian Unair, Toetik Koesbardiati, menegaskan “Saya melihat banyak aset intangible , itu tidak masalah dalam museum, karena memang storyline-nya begitu,” tandasnya. (nio/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.