Kolak Hidangan Tradisional Nusantara yang Sarat Makna

Rudy Hartono - 16 January 2025
Pedagang memasak Kolak yang menjadi salah satu menu khas berbuka puasa pada bulan Ramadhan. (foto:rri)

SR, Surabaya – Kolak adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang sering muncul saat bulan Ramadan. Rasanya yang manis dan legit membuatnya menjadi favorit banyak orang, terutama sebagai menu berbuka puasa. Namun, tahukah Anda bahwa kolak memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia?

Dilansir dari laman Dinas Pariwisata Yogyakarta, asal usul kolak diyakini berakar dari tradisi masyarakat Jawa. Hidangan ini pertama kali muncul pada masa penyebaran agama Islam di Nusantara, sekitar abad ke-15 hingga 16. Para ulama yang datang ke Jawa memperkenalkan hidangan ini sebagai simbol pengajaran agama kepada masyarakat lokal.

Nama “kolak” sendiri diyakini berasal dari kata Arab “khalik”, yang berarti Sang Pencipta. Dalam konteks ini, kolak menjadi media untuk mengingatkan manusia akan hubungan mereka dengan Tuhan. Hidangan ini kemudian digunakan sebagai alat dakwah, dengan bahan-bahan yang memiliki makna simbolis.

Kolak umumnya terdiri dari santan, gula merah, dan bahan utama seperti pisang, ubi, atau labu. Setiap bahan dalam kolak memiliki filosofi tersendiri:

  1. Pisang: Biasanya digunakan jenis pisang kepok. Kata “kepok” dalam bahasa Jawa berarti “mengumpulkan,” yang melambangkan pentingnya bersatu dalam kebaikan.
  2. Santan: Melambangkan kesucian hati. Warna putih santan dianggap merepresentasikan kebersihan jiwa.
  3. Gula Merah: Rasa manisnya melambangkan keikhlasan dan kebahagiaan dalam berbagi.
  4. Ubi atau Labu: Melambangkan kesederhanaan dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan.

Meski identik dengan Jawa, kolak juga dikenal di berbagai daerah di Indonesia dengan variasi bahan dan rasa. Di Sumatra, misalnya, kolak sering ditambahkan dengan nangka untuk memberikan aroma yang khas. Sementara di Sulawesi, ada variasi kolak yang menggunakan campuran durian, yang dikenal dengan nama “kolak durian.”

Di Bali, kolak disebut “bubur biji salak,” yang menggunakan ubi jalar sebagai bahan utama dan teksturnya lebih kental. Sedangkan di Kalimantan, kolak sering dipadukan dengan bahan lokal seperti cempedak atau keladi.

Hingga kini, kolak tetap menjadi salah satu menu andalan saat bulan Ramadan. Hidangan ini tidak hanya menjadi pelepas dahaga setelah seharian berpuasa, tetapi juga menyimpan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Tradisi membuat kolak bersama keluarga juga menjadi momen kebersamaan yang erat di tengah masyarakat Indonesia.

Kolak adalah bukti bahwa kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga sarat dengan makna dan sejarah. Sebagai warisan budaya, kolak mengajarkan kita tentang pentingnya bersyukur, berbagi, dan menjaga tradisi nenek moyang yang penuh filosofi. (*/rri/red)

 

 

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.