Potret Korban HAM Masa Lalu

Yovie Wicaksono - 9 March 2020
Buku Foto Tentang Korban HAM Masa Lalu. Foto : (Super Radio/Niena Suartika)

SR, Jakarta – Era reformasi yang dimulai pada tahun 1998 telah membawa dampak besar bagi sebagian lini masyarakat. Banyak korban-korban kekerasan hak asasi manusia (HAM) di masa lalu kini berani membuka suaranya dengan menggunakan berbagai perangkat, baik melalui video, audio, tulisan, bahkan foto. 

Seperti dalam buku foto “Mereka Yang Dipisahkan” karya Raharja Waluya Jati dan “Para Pembuka Jalan” karya Sigit D. Pratama, Adrian Mulya, Agoes Rudianto dan Ramjaneo Pasopati, yang menceritakan mengenai korban pelanggaran HAM masa lalu. 

Dengan bentuk cerita yang berbeda, kedua buku foto ingin menggambarkan seperti apa kejadian di masa lalu serta apa yang sudah dilakukan para korban untuk memperoleh keadilan. 

Sigit D. Pratama mengatakan, program kemanusiaan yang dibawa ini sebenarnya ingin bercerita bahwa hampir 5 tahun para korban pelanggaran HAM masa lalu berusaha mengubah hidupnya dan apa yang telah tercapai. Namun,  kesulitan yang ia rasakan yaitu tidak bisa leluasa bercerita kejadian masa lalunya seperti apa, jadi ia hanya bisa memotret apa yang sudah mereka capai hari ini.

“Isu bahwa kejadian kekerasan HAM masa lalu,  ketidakadilan oleh negara di masa lalu itu ada. Jadi cara kita menemukannya melalui fotografi yaitu dengan merekayasa secara visual,  menggunakan simbol-simbol, bentuk-bentuk semiotika, sesuatu yang tidak langsung. Tujuannya ialah menginformasikan bahwa ada sesuatu yang dilakukan dan bertujuan untuk perubahan,” katanya. 

Ada tujuh daerah yang menjadi target dari buku “Para Pembuka Jalan” ini,  yaitu Lampung, Jogja, Solo, Sikka, Maumere, Aceh, dan Sulawesi.

“Kita ingin sampaikan bahwa perubahan harus terjadi,  keadilan sosial harusnya berlaku untuk semua orang bukan hanya sekelompok orang saja,” kata Sigit. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.