Perjumpaan Seni dan Solidaritas Lintas Komunitas di Hari Bahasa Isyarat Internasional

Rudy Hartono - 27 September 2025
Karya-karya lukisan penyandang disabilitas rungu ekspresif dan  sarat makna dipamerkan memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional di Kampus 2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (27/9/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

SR,Surabaya – Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) mengundang belasan komunitas tunarungu dan masyarakat umum berbaur dalam berbagai kegiatan di  peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) di Kampus 2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (27/9/2025).

Dua penyandang disabilitas rungu membawakan  acara (master ceremony/MC) dalam memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional di Kampus 2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (27/9/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Dua penyandang disabilitas rungu tampil interaktif memandu jalannya kegiatan menggunakan bahasa isyarat. Setiap gerak isyarat diterjemahkan oleh translator di balik layar untuk memastikan keterjangkauan informasi bagi peserta non-tunarungu.

Seminar utama dibawakan oleh Michelle Liyanto dari Pusbisindo Pusat yang menyoroti esensi perjuangan hak dan aksesibilitas bagi komunitas tuli. Dalam paparannya, Michelle menekankan bahwa bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga identitas budaya dan hak asasi. Ia menggarisbawahi pentingnya pengakuan, kesetaraan, dan kerja tanpa diskriminasi, dengan area perjuangan mencakup identitas, komunikasi, layanan publik, pendidikan, dan lapangan kerja.

Salah seorang disabilitas rungu tampil tari remo dengan lincah mengikuti setiap hentakan musik dalam acara peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional di Kampus 2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (27/9/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Koordinator HBII, Nabilatul Fadila, turut memberikan wawasan mengenai tantangan yang dihadapi komunitas tunarungu, terutama stigma sempit yang memandang tuli sebagai cacat semata. Ia menyoroti belum meratanya pendidikan inklusif dan kualitasnya yang masih terbatas. “Kalau tanpa penggunaan bisindo (bahasa isyarat Indonesia), kami sering terjadi miskomunikasi dan terkadang diskriminasi serta kurangnya akses informasi di fasilitas publik,” ujar Nabilatul.

Koordinator Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) Nabilatul Fadila di Kampus 2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (27/9/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Rangkaian acara juga menampilkan pertunjukan seni yang menggugah, seperti drama dongeng tentang ibu burung dan anaknya yang jatuh dari sarang, diperankan oleh komunitas HBII. Penampilan pantomim oleh anak-anak bernama Zidan dan Adam turut memikat perhatian penonton.

Akitivis Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Michelle Liyanto paparkan hak-hak dan aksesibilitas dalam seminar memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional di Kampus 2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (27/9/2025). (foto : vico wildan/superradio.id)

Salah satu momen paling menginspirasi adalah penampilan Tari Remo oleh Diar (30), seorang penari disabilitas. Diar dilatih oleh Anita, seorang guru tari umum yang kini membuka pelatihan privat bagi penyandang disabilitas. “Harapan saya, kegiatan ini bisa menjadi sebuah komunitas budaya agar bisa membantu teman-teman disabilitas,” ungkap Anita.

Sebagai bentuk ekspresi dan dukungan, komunitas juga memamerkan karya-karya lukisan yang dibuat oleh anggota tunarungu. Publik diajak berpartisipasi dengan menempelkan kertas warna di dinding dalam aksi “One Letter to HBII 2025”, sebagai simbol dukungan terhadap perjuangan aksesibilitas dan pengakuan hak komunitas tuli. Acara ini menjadi ruang perjumpaan yang menyentuh antara seni, advokasi, dan solidaritas lintas komunitas. (js/red)

 

Tags: , , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.