Peringatan 3 Tahun Bom Surabaya, Perempuan Diajak Menjadi Duta Perdamaian

Yovie Wicaksono - 11 May 2021
Forum Rumah Bersama Surabaya memperingati tiga tahun terjadinya bom tiga gereja di Surabaya. Foto : (Super Radio/Nirwasita Gantari)

SR, Surabaya – Memperingati tiga tahun terjadinya bom tiga gereja di Surabaya, Forum Rumah Bersama Surabaya mengajak kaum perempuan berani melawan ideologi radikal dengan menjadi duta perdamaian.

“Perempuan harus menginspirasi. Sejak peristiwa bom gereja di Surabaya tahun 2018, perempuan dan anak-anak semakin sering dilibatkan dalam aksi teror. Mereka ini adalah korban,” ujar Sekretaris Umum PW Fatayat NU Jawa Timur, sekaligus anggota Forum Rumah Bersama Surabaya, Wiwik Endahwati di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Senin (10/5/2021).

Menurutnya, perempuan dan anak-anak seringkali dijadikan objek melakukan gerakan tak bertanggung jawab. Maka dari itu, melalui kegiatan bertema “Menolak Kekerasan Melalui Tuhan Yang Berhati Ibu”, pihaknya mengajak perempuan menjadi agen perdamaian.

“Saat ini pun kami bukan mengenang lukanya (peristiwa bom 13 Mei 2018), tapi mengenang semangat bersama dengan kawan lintas agama agar lebih menguatkan kebersamaan, bahwa perbedaan itu bukan sesuatu yang salah tapi sebagai aset kita untuk membangun bangsa ini,” tandasnya.

Romo Paroki Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Agustinus Eka Winarno menyambut baik kegiatan ini. 

“Gema ini saya kira bagus. Ini juga perlu didukung. Kita saling silaturahmi untuk saling dekat antar umat beragama,” ujarnya.

Secara terpisah Ketua DPRD Jawa Timur, Kusnadi mengatakan, peringatan tragedi 13 Mei kali ini merupakan pengingat bersama untuk menyudahi rasa saling membenci, merasa paling benar sendiri antar satu dengan yang lain dan menjadikan sebagai momentum untuk bersatu. 

Terlebih, meskipun pemerintah belum secara resmi menetapkan 1 Syawal 1442 Hijriah, namun dalam kalender 1 Syawal 1442 Hijriah jatuh pada 13 Mei 2021 yang juga bertepatan dengan Kenaikan Isa Almasih. Hal ini menjadi momen di mana umat Islam dan Kristen serta Katolik akan memperingati hari besar secara bersamaan.

“Ini tidak ada yang kebetulan. Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan dunia, kita itu bersaudara. Apapun suku dan keyakinanmu, kamu bersaudara. Maka saling menjagalah, jangan saling menyakiti. Agar tercipta kedamaian antar umat beragama,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.