Penyebab Stres di Lingkungan Kerja dan Cara Mengatasinya

Yovie Wicaksono - 12 March 2021
Ilustrasi seseorang yang mengalami stres di lingkungan kerja. Foto : (Rakyat.News)

SR, Surabaya – Stres bisa terjadi pada siapa dan dimana saja. Tidak terkecuali di lingkungan kerja, yang memiliki tekanan tersendiri bagi karyawan.

Tekanan di lingkungan kerja bisa dialami oleh semua orang, tidak hanya pada karyawan lama, tapi juga pada karyawan yang baru saja bekerja.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala, Agustina Engry mengatakan, untuk karyawan yang baru saja bekerja, stres di lingkungan kerja bisa terjadi karena adanya respon dari proses penyesuaian diri seperti bertemu dengan orang dan lingkungan yang baru sehingga mengakibatkan adanya tekanan.

“Sesuatu yang baru, bisa menyebabkan seseorang menjadi stres, sekalipun dia menyukai hal itu, dan itu adalah hal yang sangat wajar,” ujar Agustina.

Sementara itu, Psikolog Michael Seno Rahardanto menambahkan, stres di lingkungan kerja secara umum bukanlah sesuatu yang bisa dihindari, karena berhubungan dengan pekerjaan atau profesi seseorang.

“Apabila kita tidak bisa menghadapi stres di tempat kerja, maka bisa beresiko terhadap banyak hal seperti kehilangan pekerjaannya atau promosi jabatan maupun jenjang karir,” ujar Rahardanto.

Cara Mengatasi Stres di Lingkungan Kerja 

Dalam Ilmu Psikologi, teknik atau cara untuk mengatasi stres dikenal dengan istilah “Coping Stress” yang dibagi menjadi dua yaitu Problem Focused Coping (PFC) dan Emotional Focused Coping (EFC).

Problem Focused Coping (PFC) merupakan teknik coping yang terfokus pada masalah dan mengatasinya dengan tindakan langsung.

Misalnya, seorang karyawan yang tidak paham dengan jobdesk tambahan yang diberikan oleh atasan (problem). Maka hal yang dilakukan oleh karyawan adalah langsung mengatasi sumber masalah tersebut seperti bertanya pada rekan kerja atau belajar serta mencari banyak referensi seperti internet (solusi).

Sementara itu, Emotional Focused Coping (EFC) merupakan teknik coping yang terfokus pada “emosi atau diri kita sendiri”. Jadi, penggunaan dari teknik ini bukan untuk menyelesaikan sumber masalah tetapi membuat diri sendiri bisa menerima masalah tersebut.

“Karena akan ada kondisi-kondisi di mana kita merasa stres, tapi kita tidak menyelesaikan hal tersebut,” jelas Agustina.

Contohnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat hiburan seperti berdoa, cerita ke teman, atau melakukan hal-hal yang disukai. Kegiatan-kegiatan ini bisa membantu untuk mengurangi stres, tapi tidak membantu untuk menyelesaikan masalah.

“Masalah tersebut memang tidak akan selesai, tapi orang tersebut akan lebih tenang bahkan lebih siap untuk menghadapi masalah tersebut,” ujar Rahardanto.

Rahardanto mengatakan, idealnya kedua hal ini dilakukan secara berbarengan atau seimbang. Jadi seseorang berusaha menyelesaikan masalahnya sambil membuat diri lebih siap.

“Jika kita bicara dalam konteks kerja, seseorang harus bisa membedakan mana yang masih dalam kendalinya dan mana yang sudah di luar kendalinya. Apabila masih berada dalam kendali, maka gunakan teknik PFC yang berfokus ke luar. Begitu pula sebaliknya, apabila sudah berada diluar kendali kita, maka gunakanlah teknik EFC yang lebih berfokus ke dalam,” imbuh Rahardanto.

Oleh sebab itu, di samping bekerja, seseorang juga perlu menyediakan waktu untuk beristirahat untuk mengurangi tingkat stres dalam diri, sehingga kehidupan menjadi lebih seimbang. (mt/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.