Pentingnya Mengubah Perspektif dalam Mengatasi Ketimpangan Gender

Yovie Wicaksono - 18 November 2019
Ilustrasi gender. Foto : (Shutterstock)

SR, Surabaya – Membahas mengenai ketimpangan gender, harus mengacu pada Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) yang memiliki tiga indikator untuk mengukur ketimpangan, yakni partisipasi perempuan di ranah publik (politik), pengambilan keputusan (sosial) dan aksesibilitas terhadap sumber daya ekonomi (memiliki pendapatan sendiri).

Selain itu, juga mengacu pada Indeks Pembangunan Gender (IPG) yang melihat bagaimana kualitas hidup perempuan dan laki-laki mulai dari pendapatan, pendidikan dan kesehatan.

Direktur Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan (KPS2K) Jawa Timur, Iva Hasanah mengatakan di Indonesia, khususnya Jawa Timur di tiap masing-masing sektor memiliki ketimpangan yang berbeda. Namun yang menjadi catatan penting darinya adalah ketimpangan tertinggi terjadi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan.

“Selain kita memproteksi dengan perlindungan hukum, tapi juga harus dimulai dengan bagaimana kita mengubah cara pandang kita terhadap gender, terutama terhadap perempuan,” ujarnya, Minggu (17/11/2019).

Menurut Iva, untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat melalui dua hal, yakni peran negara untuk melindungi warga negara terutama mereka yang selama ini masih mengalami ketertindasan (paling banyak dialami perempuan) dan bagaimana perempuan yang selama ini hidup dalam tradisi, budaya, keyakinan, pemahaman, maupun agama, harus mulai di intervensi berkaitan dengan konsep-konsep keadilan gender.

“Kalau buat kami sebenarnya dalam memahami konteks local wisdom itu memang mesti harus dilihat budaya mana yang sebenarnya memang itu harus dilanggengkan dan budaya mana yang sebenarnya harus sudah ditinggalkan,” ujarnya.

Ia mengatakan, ketika menganalisis tentang ketimpangan gender yang menjadi lawan utama adalah budaya patriarki, yang menguntungkan salah satu gender di masyarakat.

“Nah selama ini yang sering mendapatkan ketidak beruntungan dalam konteks budaya patriarki ini adalah kelompok perempuan. Sedangkan yang sering mendapatkan akses, otoritas dan sumber daya itu adalah kelompok laki-laki,” katanya.

“Menurut saya, budaya-budaya yang mengandung paham atau cara pandang patriarki ini yang mestinya memang sudah dinyatakan tidak relevan. Mesti mulai diubah atau kalau perlu ya ditinggalkan,” imbuhnya.

Iva menegaskan, semua agama maupun keyakinan apapun pada dasarnya menganggap perempuan dan laki-laki sebagai manusia yang punya nilai dan martabat yang sama. Dan itu perlu dihormati, tidak perlu ada yang dianggap lemah atau kuat. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.