Penting Peran Pendamping bagi Penyandang Disabilitas Intelektual
SR, Surabaya — Bagi penyandang disabilitas intelektual, mendapatkan layanan kesehatan yang layak sering kali terasa seperti melewati labirin yang rumit dan penuh hambatan.
Di tengah sistem kesehatan yang belum sepenuhnya inklusif, peran pendamping—baik keluarga maupun perawat profesional—muncul sebagai jembatan paling krusial yang menentukan apakah seorang penyandang disabilitas bisa mendapatkan hak kesehatan mereka atau justru terabaikan.
Pentingnya peran pendamping ini menjadi sorotan utama dalam jurnal penelitian terbaru berjudul “Access to healthcare for people with intellectual disability: a scoping review” yang diterbitkan pada Scandinavian Journal of Public Health. Penelitian ini dipimpin oleh MaryAnn Barrington, peneliti dari National Centre of Excellence in Intellectual Disability Health, UNSW Sydney, bersama rekan-rekannya.
Dalam kajiannya, MaryAnn Barrington menekankan bahwa akses kesehatan bukan sekadar tentang ketersediaan dokter, melainkan interaksi dinamis antara kesiapan penyedia layanan dan kapasitas pasien untuk menjangkaunya. Di sinilah pendamping menjadi faktor penentu.
Barrington menuliskan dalam jurnal tersebut bahwa pendamping sangat penting untuk advokasi dalam janji temu kesehatan, komunikasi, pengambilan keputusan, dan keterlibatan. Tanpa dukungan tersebut, penyandang disabilitas intelektual sering kali kesulitan untuk menyampaikan keluhan medis mereka atau mematuhi rencana pengobatan yang kompleks.
Penelitian ini mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa angka kematian penyandang disabilitas intelektual secara global berada pada usia yang jauh lebih muda, yakni antara 50 hingga 54 tahun. Banyak dari kematian ini disebabkan oleh penyakit yang sebenarnya bisa dicegah jika mereka memiliki akses kesehatan yang lebih baik. Hambatan sistemik seperti informasi kesehatan yang sulit dipahami dan tenaga medis yang kurang terlatih menjadi alasan utama mengapa peran pendamping menjadi sangat vital.
Janelle Weise, peneliti dari National Centre of Excellence in Intellectual Disability Health, UNSW Sydney, yang juga terlibat dalam studi ini, menjelaskan bahwa pendamping berperan dalam tiga tahap utama: mengidentifikasi masalah kesehatan, menghubungkan pasien dengan layanan, serta memastikan pengobatan berjalan sesuai rencana. Namun, penelitian ini juga memperingatkan adanya tantangan besar ketika sistem kesehatan terlalu bergantung pada pendamping tanpa memberikan dukungan balik kepada mereka.
Barrington dan timnya menemukan bahwa banyak penyedia layanan kesehatan masih bingung mengenai tanggung jawab mereka dan cenderung melimpahkan seluruh urusan komunikasi serta perawatan dasar kepada pendamping informal. Hal ini diperparah oleh kebijakan yang tidak sinkron antara sektor disabilitas dan sektor kesehatan, yang sering kali menghambat koordinasi tim medis dalam menangani pasien dengan kebutuhan khusus.
Sebagai solusi untuk mengatasi ketimpangan ini, Barrington menegaskan perlunya perubahan model pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Menurutnya, “Model akses layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas intelektual harus mempertimbangkan peran pendamping dan konteks sosiohistoris di mana akses kesehatan itu terjadi,” tulisnya dalam kesimpulan jurnal tersebut.
Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah dan lembaga kesehatan tidak hanya fokus pada pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga memperkuat kapasitas pendamping melalui pelatihan medis dasar dan advokasi. Dengan menempatkan pendamping sebagai bagian integral dari sistem kesehatan, diharapkan celah diskriminasi dapat tertutup, sehingga hak asasi penyandang disabilitas intelektual untuk hidup sehat dan panjang umur dapat benar-benar terpenuhi. (*/dv/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





