Penjelasan Dosen Fakultas Kedokteran Unair Terkait Bahaya Skull Breaker Challenge

Yovie Wicaksono - 29 February 2020
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang sekaligus dokter bedah saraf Rumah Sakit Dr. Soetomo Divisi Neurotrauma dan Neuroinfeksi, Tedy Apriawan. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Belakangan ini aplikasi TikTok tengah marak dimainkan oleh banyak kalangan. Demi konten semata, beberapa tantangan gerakan di video TikTok bisa menyebabkan kematian. Tantangan tersebut adalah Skull Breaker Challenge.

Tantangan yang bermula di Venezuela ini melibatkan tiga siswa. Saat satu siswa yang berada di tengah melakukan gerakan melompat, kedua siswa lainnya yang berada di sisi menjegal kedua kaki anak tersebut. Siswa yang berada di tengah tersebut lantas jatuh dengan kepala terhantam lantai.

Berkaitan dengan hal itu, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) yang sekaligus dokter bedah saraf Rumah Sakit Dr. Soetomo Divisi Neurotrauma dan Neuroinfeksi, Tedy Apriawan berkomentar terkait dampak challenge Tiktok terhadap saraf.

Jika dilihat dari Skull Breaker Challenge, bagian tubuh yang langsung mengenai lantai adalah bagian kepala belakang. Tedy menjelaskan bahwa di bagian kepala belakang terdapat lobus oksipital atau pusat penglihatan dan cerebellum atau otak kecil yang berfungsi sebagai pusat keseimbangan, tonus otot dan kontraktilitas dari koordinasi gerakan.

Dilihat dari video tersebut, ia menjelaskan benturan yang terjadi selain pada bagian kepala belakang, juga mengenai tulang leher, tulang belakang bagian dada, dan tulang belakang bagian punggung.

“Kalau terjadi benturan atau trauma, dampaknya bisa menyebabkan fraktur (patah tulang, Red) dan juga kematian secara langsung,” ungkap Tedy.

Salah satu video tersebut bahkan memperlihatkan kematian secara langsung setelah dijatuhkan. Tedy menjelaskan, kematian tersebut terjadi disebabkan oleh pendarahan di dalam otak yang disebut pendarahan Epidural Hematome.

“Kalau kena fraktur di patah tulang leher, sumsum tulangnya patah, langsung jantung berhenti, atau langsung koma. Jantungnya masih bisa berdetak, istilahnya mati batang otak,” imbuhnya.

Sebelum challenge yang sempat viral, kejadian serupa adalah tindakan siswa yang sering menarik kursi ketika temannya mau duduk hingga menyebabkan jatuh. Tedy menjelaskan, candaan tersebut nantinya akan terasa pada lima tahun ke depan.

“Kalau jatuhnya duduk bisa patah di tulang belakang bagian punggung maupun bagian belakang dada. Kalau sampai patah, bisa lumpuh kedua kaki,” paparnya.

Selain itu, kegiatan anak yang turun tangga sambil duduk, jika terkena jaringan diskus akan terjadi saraf kejepit. Efek yang ditimbulkan antara lain nyeri hebat yang tak tertahankan, kelumpuhan, gangguan pengeluaran feses, dan sistem urinaria.

Menurut Tedy, cara penanganan jika terjadi pendarahan otak pertama, dilakukan operasi jika terindikasi, kedua tidak dioperasi jika terjadi pendarahan kecil.

“Meskipun kecil, pasien akan mengalami gangguan neurologis. Gejalanya gampang kejang, amnesia, bahkan koma lama bisa,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu Tedy sangat menyayangkan prank yang sudah terlewat batas yang membahayakan bagi saraf serta merugikan banyak pihak. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.