Pesan Hangat Megawati untuk Seniman Belia Surabaya: “Jangan Menyerah dan Teruslah Maju”

Rudy Hartono - 24 August 2026
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati tersenyum sembari berbincang singkat dengan tiga penari belia: Andra (7), Nafisa (9), dan Feli (7) di sela konsolidasi internal partai di di Vasa Hotel Surabaya, Minggu (23/8/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Suasana khidmat rapat konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Vasa Hotel Surabaya, Minggu (23/8/2026) seketika mencair saat tiga penari Remo cilik melangkah mendekat ke arah Megawati Soekarnoputri.

Di tengah barisan kursi pimpinan, Presiden ke-5 RI tersebut tampak duduk tenang sembari menyambut kehadiran tiga seniman belia:  Andra (7), Nafisa (9), dan Feli (7). Mereka ingin memberikan penghormatan langsung, memberi bunga usai tampil di atas panggung.

Pertemuan jarak dekat ini dimanfaatkan Megawati untuk berbincang akrab layaknya seorang ibu dengan cucu-cucunya. Dengan raut sumringah, ia menanyakan usia, kelas sekolah, hingga durasi mereka telah menekuni seni tradisional tersebut.

Di sela-sela percakapan singkat itu, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan ini menitipkan sebuah wasiat semangat bagi kelestarian budaya bangsa.  Ia meminta para penari untuk tak menyerah pada mimpi dan cita-cita mereka.

“Ada pesan sedikit, katanya jangan menyerah untuk menari, harus tetap maju,” ujar Andra saat menirukan pesan Megawati kepadanya.

Meski terlihat berani saat membawakan tari Remo yang enerjik, rasa cemas tak dapat disembunyikan oleh anak-anak asuhan Sanggar Tari Putra Bimbar ini. Saat berhadapan langsung dengan sosok berpengaruh di Indonesia, mereka mengaku mengalami gejolak emosi yang bercampur aduk antara rasa bangga dan tegang.

“Kayak gemeter gitu, soalnya baru pertama kali ketemu,” ungkap Andra dengan polosnya menggambarkan suasana hatinya saat itu.

Atraksi tari remo Gagrakar melibatkan 41 penari tampil menghibur peserta konsolidasi PDI Perjuangan se-Jatim di Vasa Hotel Surabaya, Minggu (23/8/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

Hal senada juga dirasakan oleh Feli yang menggunakan istilah khas Jawa, ndredeg, untuk melukiskan kegugupannya saat bersalaman dengan Ibu Megawati.

Dengan antusias mereka menyampaikan rasa syukur mereka atas kesempatan langka bisa berinteraksi dekat dengan pemimpin bangsa. “Terima kasih soalnya sekarang sudah memimpin kita, sudah men-support kita,” tutur mereka dengan tulus.

Adapun, pertunjukan para penari ini merupakan bagian dari pementasan Tari Remo Gagrakar yang melibatkan 41 peserta dengan rentang usia mulai dari kelas 1 SD hingga bangku SMA.

Pementasan tersebut menjadi pembuka penting dalam agenda konsolidasi yang dihadiri oleh jajaran petinggi partai, termasuk Prananda Prabowo beserta pengurus DPD, kepala daerah, hingga anggota legislatif tingkat provinsi dan pusat.

Pelatih Sanggar Tari Putra Bimbar, Sariono (61) sekaligus pencipta tarian tersebut, menjelaskan bahwa karya kolaborasi ini sengaja disusun sebagai simbol perjuangan masyarakat Surabaya yang dikemas menjadi tontonan menarik.

Bagi Sariono, apresiasi langsung dari Ibu Megawati merupakan kebanggaan besar bagi sanggar tari yang dipimpinnya. “Makna dari tarian ini itu tari perjuangan. Jadi pada zaman dahulu kala masyarakat Surabaya berjuang untuk mengunci para penjajah,” pungkasnya. (hk/red)

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.