Pendapat Pakar UNAIR Tentang Cacar Monyet

Yovie Wicaksono - 29 May 2019
Guru Besar Virologi dan Imunologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, Soewarno. Foto : (Humas Unair)

SR, Surabaya – Guru Besar Virologi dan Imunologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, Soewarno menegaskan, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dan tetap waspada terhadap cacar monyet (monkeypox). Sebab, Dinas Kesehatan (Dinkes) belum menemukan keberadaan inang (organisme yang menampung virus) dari virus tersebut di Indonesia.

“Biasanya, penderita monkeypox dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 14 sampai 21 hari. Tapi bisa berakibat fatal jika pasien mengalami infeksi sekunder atau komplikasi,” ujar Soewarno, Rabu (29/5/2019).

Dia menuturkan, bahwa persentase kasus fatal hanya sebesar satu hingga sepuluh persen. Dan, sebagian besar di antaranya terjadi pada kelompok usia dini yang berumur sembilan sampai lima belas tahun. Bahkan, pernah berdampak pada kematian anak-anak di Afrika.

Dunia medis mengklasifikasikan cacar monyet ke dalam kategori zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Tetapi, mulai terdapat kecenderungan menular antar manusia. Termasuk baru ditemukan (new emerging desease), yakni pada tahun 1958 dan terlokalisir di Afrika sampai dengan sebelum 2003.

“Baru pada tahun 2003 meluas ke Amerika (47 kasus), tahun 2018 menuju Inggris (3 kasus) dan Israel (1 kasus), serta tahun 2019 di Singapura ini,” ujar penemu spray flu burung ini.

Soewarno mengatakan, sebelum cacar monyet, dunia dikejutkan oleh munculnya penyakit cacar pada manusia atau variola. Jika menginfeksi kulit, tingkatannya dalam dan akan meninggalkan bekas berupa bopeng. Tetapi sudah berhasil dibasmi sejak 1970-an. Jadi ada semacam hubungan tertutup juga antara keduanya.

Masa inkubasi cacar monyet berkisar antara enam hingga enam belas hari. Pada hari pertama pasca infeksi, virus berkembang biak dan menimbulkan peradangan lokal. Kemudian beranjak menuju pembuluh darah. Lima hari pertama akan ditandai dengan demam, sakit kepala, pembengkakan limfoglandula, serta nyeri di beberapa bagian tubuh. Setelah demam, gejala dilanjutkan dengan munculnya ruam pada kulit dari tahap papula, berubah menjadi vesikel, pastula, diikuti dengan kusta dalam waktu sepuluh hari.

“Sebanyak 70 persen kasus terjadi di wajah, 30 persen di area genital, sisanya di mata. Pada kasus lain ada yang di punggung, tangan atau paha. Sangat bervariasi,” ujarnya.

Tidak ada obat ataupun vaksin yang dapat mencegah cacar monyet. Sementara pengobatan pasien akan menggunakan antiviral cidofovir.

Upaya untuk mencegah penularan di daerah endemik adalah menghindari kontak dengan hewan rodent, primata serta penderita. Menjaga kesehatan serta lingkungan juga penting dilakukan agar terhindar dari penyakit.

Pencegahan yang lebih luas juga dilakukan oleh Indonesia One Health University Network (Indohun). Yakni, organisasi di tingkat dunia yang bekerja sama dengan seluruh perguruan tinggi yang memiliki fakultas kedokteran, kedokteran hewan, keperawatan dan kesehatan masyarakat. Indohun telah melibatkan sekitar 20 perguruan tinggi dan 34 fakultas se-Indonesia termasuk UNAIR dalam melakukan sosialisasi dan mengobati zoonosis.

“Di UNAIR namanya Airlangga Desease Prevention and Research Center (ADPRC). Jadi penyakit ini minimal akan dikeroyok oleh tiga ahli serta melibatkan bidang-bidang lain dari ahli sosial, ahli lingkungan dan ahli budaya. Agar penanganannya maksimal,” tandasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.