Pemuda Karang Taruna Kediri Pelajari Proses Pengolahan Kopi

Yovie Wicaksono - 30 July 2019
Puluhan pemuda Karang Taruna asal Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, pelajari proses pengolahan kopi. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Puluhan pemuda Karang Taruna asal Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, mendatangi Pride Cafe di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, pada Selasa (30/7/2019), untuk mempelajari karakteristik rasa, jenis kopi, sekaligus mengetahui tata cara pengolahan kopi.

Ketua Karang Taruna Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Manda (23) menjelaskan, pelatihan ini diberikan pada mereka yang berkategori usia produktif, seperti baru lulus SMA hingga umur 24 tahun, sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

“Tujuannya untuk pemberdayaan masyarakat. Setelah pelatihan ini,  diharapkan mereka bisa membuka usaha barista warung kopi atau cafe. Karena di Kediri saat ini lagi menjamur. Kita memanfaatkan dana dari Kelurahan untuk pemberdayaan masyarakat,” ujar Manda.

Dengan bekal pelatihan yang diberikan, minimal para peserta sudah memiliki bekal. Ini merupakan pelatihan yang ketiga kalinya diadakan. Sebelumnya mereka juga pernah mengikuti pelatihan tentang tanaman Hidroponik. “Respon teman-teman bagus sekali, sangat antusias,” imbuhnya.

Seorang Barista bernama Dovar, memperkenalkan beberapa jenis kopi diantaranya Arabica Bali, Kopi Ijen dan Kopi Papua yang memiliki karakteristik dan rasa yang berbeda.

Pihak manajemen Pride Cafe, Verinanda mengatakan, ketiga jenis kopi tersebut memiliki tingkat  keasaman yang berbeda dan sedikit manis. Meskipun ada salah satu jenis kopi memiliki karakteristik manis, namun rasa ke pahitnya lebih dominan.

“Kopi satu dengan kopi lain itu kan punya karakteristik sendiri, jadi mereka dikenalkan itu terus nanti disuruh buat sendiri. Ada tubruk, aeropress ada vietnam street. Diajari penyajian sekaligus karakteristik kopi,” ujar Verinanda.

Selain diperlukan pemahaman, peserta pelatihan diharapkan juga memiliki kepekaan untuk bisa membedakan jenis kopi yang dimaksud. Aroma kopi biasanya menyembul keluar ketika bijinya sudah melalui proses grinder.

Selama beberapa jam mengikuti pelatihan, Verinanda menilai mereka mempunyai potensi untuk bisa menjadi Barista. Disamping itu ia menganggap mereka sangat antusias untuk mau belajar.

“Karang Taruna itu antusias banget, orang-orangnya mau belajar. Terus disuruh nyoba juga rebutan saking antusiasnya. Kalau Barista kan memang harus punya keahlian khusus. Indera penciuman juga harus tajam, terus mengatur porsinya itu kan tidak sembarangan. Potensinya teman-teman ada, kini harus bagaimana mereka mengolahnya, atau mereka mau lebih giat lagi bisa sekolah Barista. Mereka tinggal mau atau tidak,” ujarnya.

Untuk bisa menjadi seorang Barista yang handal, ia menyarankan untuk menempuh studi khusus di bidangnya. Menurutnya, sekolah Barista bisa ditempuh dalam jangka waktu satu hingga dua minggu, tergantung bidang apa yang dipilih nantinya.

“Sekolah Barista itu singkat ada yang seminggu, dua minggu tergantung dia itu mau memperdalam bidang apa. Misalkan kalau mau yang tamping saja. Tamping itu cuman mengatur porsi bisa dua minggu selesai,” ujar perempuan yang pernah menjadi seorang Barista selama satu tahun ini. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.