Kopi, Konten, dan Kemandirian: Semangat Disabilitas di Surabaya

Rudy Hartono - 30 November 2025

SR, Surabaya – Sabtu pagi, 29 November 2025, Gedung BKKKS Surabaya, Jalan Raya Tenggilis Surabaya, dipenuhi senyum dan tawa. Di sana, puluhan penyandang disabilitas berkumpul bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk merayakan potensi diri mereka dalam sebuah pelatihan kewirausahaan. Acara ini digagas oleh Komunitas Mata Hati bersama Biru Berbagi 2025, menghadirkan suasana hangat yang membuat siapa pun merasa diterima.

Fahmi, ketua Biru Berbagi 2025, dengan penuh keyakinan menyampaikan bahwa kegiatan sosial ini bukan hal baru. “Kami percaya setiap teman disabilitas punya potensi dan keunikan. Keterbatasan tidak menghalangi mereka untuk mandiri. Karena itu, kami hadir dengan pelatihan kewirausahaan,” ujarnya. Kata-kata itu menjadi semacam benang merah yang menuntun jalannya acara.

Pelatihan dimulai dengan sesuatu yang sederhana namun penuh makna: menggiling kopi. Ivan Wongso dari Biru Berbagi 2025 memandu peserta mencoba alat penggiling. Tangan-tangan yang mungkin tak selalu mudah digerakkan, mata yang tak lagi melihat, telinga yang tak mendengar—semuanya ikut serta. Gelak tawa pecah ketika hasil seduhan kopi dibagikan, seolah aroma kopi menjadi simbol kebersamaan.

Tak berhenti di sana, peserta diajak menyelami dunia kewirausahaan lewat seminar Annisa Rahmatika. Ia menekankan betapa pentingnya konten media sosial dalam membangun usaha di era digital. Kru Biru Berbagi kemudian mengajak peserta membuat konten langsung: sepuluh kelompok, masing-masing lima orang, berdiskusi ide lalu memproduksi video promosi. Ada yang memilih kopi, ada parfum, ada juga yang mimilih Tas, semuanya lahir dari kreativitas yang tak terbatas.

Suasana semakin kaya ketika Ari Agus Pratikno, seorang pengusaha coffee shop, berbagi strategi bisnis kopi. Pengetahuan praktis itu melengkapi pengalaman langsung yang sudah mereka jalani. Dan ketika band Komunitas Mata Hati naik ke panggung, ruangan berubah menjadi konser kecil. Nyanyian bersama menutup hari dengan euforia yang sulit dilupakan.

Di akhir acara, sertifikat penghargaan, alat wirausaha, dan sembako dibagikan. Namun lebih dari itu, yang dibawa pulang oleh para peserta adalah rasa percaya diri, semangat baru, dan keyakinan bahwa mereka mampu berdiri mandiri. Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan perayaan potensi manusia yang tak pernah padam. (js/red)

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.