Pemuda Berkain, Wadah Generasi Muda Lestarikan Wastra Nusantara
SR, Surabaya – Di zaman modern seperti sekarang, mengenakan kain tradisional (wastra) dalam kehidupan sehari-hari mungkin dianggap tak populer, bahkan kuno oleh sebagian orang. Padahal warisan Nusantara ini wajib dilestarikan, sebagai jati diri bangsa.
Terlebih, di era globalisasi ini, budaya luar negeri dapat dengan mudah masuk dan bisa menyebabkan hilangnya budaya asli Indonesia, termasuk wastra. Melihat hal tersebut, munculah komunitas anak-anak muda yang memiliki ketertarikan untuk mengenakan sekaligus melestarikan wastra, yakni komunitas Pemuda Berkain.
Founder Pemuda Berkain, Gerak Samudra mengatakan, sebelum melahirkan komunitas tersebut, sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia telah memiliki ketertarikan dengan hal-hal berbau etnik budaya.
Kemudian pada 2018, ia melihat postingan aktor Indonesia Dwi Sasono di Instagram yang sedang berlibur bersama keluarganya dengan mengenakan kain yang dipadu padan dengan atasan dan sepatu yang modern.
“Saya lihat kok keren. Akhirnya dari sana, ada niatan untuk pakai kain, cuman waktu itu belum banyak yang pakai kain dan saya sendiri merasa belum percaya diri pakai kain,” kisahnya dalam acara Influencer Garage Sale Vol.3 di Yoi Kona, Surabaya, Sabtu (13/5/2023) malam.
Lambat laun, Gerak mulai membiasakan diri memadukan kain dengan outfit modern dalam kesehariannya. Bahkan pada 2019, ia berkesempatan memperkenalkan kain nusantara di ajang Model United Nations di Kuala Lumpur.
“Waktu itu ada culture night. Jadi momennya pas untuk mengenakan kain, dan ternyata banyak yang memberi pujian karena terlihat etnik banget. Lalu di 2020 akhir muncul tren di TikTok berkain dari Swara Gembira dan tau kalau di Jakarta banyak yang sudah tertarik dengan berkain. Dari situ akhirnya pas Januari 2021 iseng buat akun Instagram @pemudaberkain.sub untuk mengampanyekan berkain,” ujar pemuda yang akrab disapa Gee ini.
Melihat tingginya antusias anak muda dari berbagai daerah untuk terlibat di dalamnya, akhirnya kata ‘Sub’ yang berarti Surabaya pada akun tersebut dilebur menjadi ‘Pemuda Berkain’ saja agar bisa lebih banyak menjangkau sekaligus mewadahi anak-anak muda yang ingin mengaktualisasikan diri lewat berkain.
“Jadi yang gabung di Pemuda Berkain bukan hanya dari Surabaya aja, ada yang dari Bandung dan Malang tapi kuliah di Surabaya mereka ikut. Jadi ini platform anak muda untuk mengaktualisasikan diri mereka lewat berkain. Kita sering kumpul seminggu sekali lalu bikin event seperti fashion show, pemotretan, dan kegiatan lain tentang budaya dan kain,” kata Gee.
Ia pun sering mendengar keluhan pemuda yang merasa tidak percaya diri saat mengenakan kain di acara non formal yang itu biasanya mengundang perhatian orang-orang disekitarnya.
“Ya saya sampaikan, itu gak papa. Karena masyarakat memang belum menormalisasikan penggunaan wastra untuk acara non formal. Dan saya mengajak teman-teman untuk menanamkan mindset bahwa saat kita berkain dan dilihatin itu belum tentu karena mereka julid, tapi bisa jadi justru mereka merasa terinspirasi dengan kita,” katanya meyakinkan.
Menurutnya, selalu ada proses untuk bisa percaya diri saat mengenakan kain. “Kalau merasa introvert, kalian bisa berkain dengan mengajak teman lainnya, jadi tidak sendiri. Terus perbanyak referensi outfit yang cocok seperti apa sehingga bisa menentukan style sendiri sampai merasa percaya diri,” sambungnya.
Ia menambahkan, berkain juga sebagai wujud untuk mendukung slow fashion yakni praktik industri pakaian, yang berfokus pada penciptaan produk tahan lama dan mementingkan kualitas daripada jumlah produksi guna mencegah terjadinya kerusakan lingkungan akibat penumpukan material-material pakaian yang sulit terurai.
“Karena dengan satu kain, bisa dijadikan beberapa style. Satu teknik berkain bisa menghasilkan beberapa look. Jadi dengan berkain, sama dengan kita mendukung slow fashion,” jelasnya.
Gee pun menegaskan alasan mengapa generasi muda harus berkain. “Wastra adalah identitas bangsa. Maka dengan berkain, bisa mengembalikan dan menunjukkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia,” pungkasnya. (fos/red)
Tags: Busana, Kain nusantara, pemuda, Pemuda Berkain, Style, Wastra
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.







