Pemicu Thrifting Banyak Digandrungi

Yovie Wicaksono - 7 December 2020
Ilustrasi

SR, Surabaya – Sejumlah masyarakat tengah menggandrungi aktivitas membeli pakaian bekas yang dijual kembali di pasar atau dikenal thrifting.

Thrifting sendiri merupakan tindakan membeli barang bekas yang masih layak dipakai guna menghemat pengeluaran dan membantu ekologi dengan mengurangi limbah tekstil.

Selain itu, aktivitas thrifting juga menjadi peluang bisnis di tengah pandemi corona ini. Beberapa orang berjualan di kios, pinggir jalan, bahkan merambah ke toko daring atau online shop.

Melansir Kompas.com, Fashion Designer brand Rengganis dan Indische sekaligus Vice Executive Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC), Riri Rengganis mengatakan ada tiga faktor yang memicu orang-orang menyukai thrifting.

“Pertama, thrifing menantang kreativitas dalam styling. Ada unsur suprise dalam berbelanja thrift, istilahnya ya lebih seru,” ujar Riri.

Ia mengatakan, pemicu kedua yakni karena barang-barang thrift lebih murah. Ketiga, adanya kesadaran akan sustainability (keberlanjutan), karena masyarakat mulai memahami bahwa baju bekas merupakan sumber limbah dunia yang sangat besar.

Selain itu, Riri menyampaikan bahwa kehadiran pakaian thrift ini perlu diperhatikan sumbernya, apakah termasuk impor atau barang bekas ilegal.

“Jadi sebetulnya kalau legal ya berarti untuk memutarkan ekonomi, memperpanjang masa pakai produk, yang mana itu baik untuk bumi,” lanjut dia.

Menurutnya, jika barang thrift yang dijual merupakan barang ilegal, artinya Indonesia dijadikan semacam tempat pembuangan dari negara-negara lain, di mana dampaknya akan negatif pada alam Indonesia, khususnya barang bekas tersebut selesai dipakai.

Ia menambahkan, barang bekas yang “fast fashion” cenderung tidak akan awet atau tidak bertahan lama. Artinya, kalau laku sebagai barang bekas, dipakai sebentar lalu akan tetap menjadi sampah juga.

Sementara itu, jika suatu thrift store yang terkurasi dengan baik, mungkin lebih banyak sisi positifnya. Misalnya, barang yang tersedia termasuk barang vintage, kualitas bagus, one-of-a-kind, dan memiliki nilai tinggi.

“Jadi, intinya kalau berbelanja thrift perlu dihindari yang impornya ilegal dan barangnya fast fashion,” ujar Riri.

Harga produk thrift pantaskah mahal?

Menilik soal harga barang-barang thrift yang sempat disebut mahal bagi produk-produk tertentu, Riri mengatakan, harga bergantung pada strategi penjual, psikologi pembeli, dan lainnya.

Riri menjelaskan, strategi penjual termasuk biaya sewa toko, misalnya atau biaya promosi yang tinggi. Hal inilah yang dapat menyebabkan tingginya harga pakaian thrift.

Sementara itu, ada pakaian thrift yang termasuk fast fashion dan vintage atau barang lama yang memiliki nilai jual tinggi. Tentu tingginya harga barang thrift yang menjadi polemik tersendiri.

“Sebagai pembeli harus riset dulu brand-nya masing-masing. Tahu harga jual barunya berapa, dan apakah diproduksi secara massal dan tahun koleksinya. Dari satu situ baru bisa menilai apakah barang tersebut layak harganya, dan termasuk vintage atau tidak,” katanya lagi. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.