Pemerintah Tetapkan 4 Strategi Kendalikan Tuberkulosis

Yovie Wicaksono - 6 September 2023

SR, Yogyakarta – Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Oleh karenanya, pemerintah telah menetapkan empat strategi nasional untuk mengendalikan TB di Indonesia.

Strategi pertama, pemerintah akan menambah fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu mengidentifikasi TB. Saat ini, jumlah fasyankes yang mampu mengidentifikasi TB masih terbatas.

“Untuk itu, pemerintah secara bertahap akan menambah dan melengkapinya dengan sarana dan prasarana yang mendukung proses identifikasi dan pengobatan TB,” ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu.

Berdasarkan Global TB Report 2022, Indonesia merupakan negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India, yakni dengan estimasi kasus sebanyak 969.000 dan kematian 144 ribu per tahun.

Strategi kedua, pemerintah akan memperkuat dan memperluas surveilans berbasis laboratorium. Ke depannya, proses pemeriksaan TB tidak hanya menggunakan TCM, tapi juga menggunakan laboratorium PCR yang tersebar di seluruh Indonesia dan memakai reagen produksi dalam negeri.

“Pemerintah juga akan membentuk TB Army. Ini merupakan kegiatan pelacakan pasien initial Lost to Follow Up (iLTFU) TBC RO dengan melibatkan peran penyintas TB dan organisasi TB,” kata Maxi Rein.

Disampaikan, saat ini Kemenkes tengah melakukan penelitian bagi penerapan mekanisme baru pengobatan bagi pasien TB RO. Sehingga pasien TB RO tidak perlu berobat selama 20 bulan, karena itu sangat sulit dan lama. Adanya mekanisme baru ini, pengobatan pasien TB RO bisa dipercepat.

Strategi terakhir adalah mengembangkan vaksin TB. Dijelaskan, saat ini pemerintah sedang mengembangkan 3 jenis vaksin TB. Ketiganya menggunakan teknologi yang berbeda-beda dan Indonesia dipastikan akan menjadi lokus uji klinis.

Maxi Rein merinci TB pertama berbasis protein rekombinan dari Bill dan Melinda Gates Foundation (BMGF). Vaksin kedua berbasis viral vector yang dikembangkan oleh CanSino-Etana. Vaksin ketiga berbasis mRNA dikembangkan oleh BioNTech bekerja sama dengan Biofarma.

“Saya berharap semua strategi ini bisa kita lakukan. Kita harus agresif karena kita bicara penyakit yang kematiannya melebih COVID-19. Penyakit yang sudah puluhan tahun tidak bisa kita selesaikan, penyakit yang dengan saling bekerjasama pasti bisa kita tuntaskan,” kata Maxi Rein. (ns/red)

Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.