Pemerintah Pikirkan Skenario Daerah Penampungan untuk Penyakit Menular

Yovie Wicaksono - 7 February 2020
Menko Polhukam Mahfud MD saat memberikan keterangan kepada awak media. Foto : (Super Radio/Niena Suartika)

SR, Natuna – Pemerintah tengah memikirkan skenario terburuk jika nantinya harus menampung banyak orang ketika adanya penyakit menular seperti virus corona. Saat ini harus disiapkan satu tempat atau daerah yang aman seperti di Natuna.

“Pemerintah sudah mulai memikirkan skenario terjelek jika nantinya memang harus menampung banyak orang lagi, untuk menyiapkan satu kawasan-kawasan penampungan yang juga aman seperti di Natuna ini. Sekarang sedang dipikirkan dan akan dibicarakan lebih lanjut,” ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD usai memimpin rapat bersama Forkopimda di kantor Bupati Natuna,  Kepulauan Riau, Kamis (6/2/2020).

Dalam kesempatan itu,  Mahfud kembali mengungkapkan mengenai keterlambatan komunikasi resmi antar pejabat. 

Dijelaskan, pada saat itu pemerintah berlomba dengan waktu karena semula pemerintah China berencana menutup akses dari dalam dan luar.  Tapi atas pertimbangan kemanusiaan dan permintaan dari masyarakat, pemerintah melakukan lobi diplomatik bagaimana caranya agar bisa memulangkan warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Wuhan. 

“Dalam keadan lobi-lobi itu, ketika pemerintah sana menyatakan oke Indonesia boleh memulangkan warganya kemudian langsung kita bertindak cepat dan Pemerintah dengan cepat pula mengambil keputusan yang sudah dihitung dengan cermat untuk meletakkan atau mengevakuasi warga negara itu ke Natuna, dan ini kemudian timbul semacam kesalahpahaman,” katanya. 

Selain itu, banyak beredar hoax terkait kejadian ini.  Misalnya, seakan-akan penempatan warga Indonesia yang berjumlah 243 itu membawa  virus yang membahayakan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. 

Padahal warga negara yang dibawa pulang ke Indonesia adalah orang sehat semuanya dan tidak membawa penyakit karena kalau membawa penyakit pemerintah Indonesia sendiri tidak mungkin dengan mudah memulangkan dan pemerintah China tidak boleh mengeluarkan orang yang membawa penyakit dari sana.

“Jadi semua yang sudah dibawa ke sini sehat. Itulah sebabnya dari 243 orang itu, ada 3 orang yang tidak jadi dibawa pulang ke sini karena standar suhu badannya lebih dari yang ditentukan, dan meskipun dia dianggap sehat tapi tidak bisa dan tidak boleh dipulangkan karena khawatir membawa virus yang masih tersembunyi,” kata Mahfud. 

Kemudian, ada isu bahwa di Indonesia tidak ada kasus corona karena pemerintah tidak mampu mendeteksi. Salah satu isu tersebut justru diberitakan media di Australia.

“Padahal di sana tidak tahu bahwa Indonesia punya kemampuan untuk mendeteksi penyakit itu, siapa yang terkena dan sudah ada peralatan dan ahlinya di Indonesia,” katanya. 

Kemudian, ada juga pemberitaan mengenai WNI yang datang ke Natuna dan dinyatakan sehat, tidak membawa virus tetapi harus dikarantina selama masa Inkubasi 14 hari. Menurut Mahfud, hal itu merupakan standar internasional untuk semakin memastikan bahwa mereka benar-benar tidak membahayakan satu orang pun nanti yang akan mereka temui. 

“Sekarang penerbangan Indonesia dari dan ke China itu ditutup untuk komersial tetapi untuk diplomatik sedang diusahakan penerbangan untuk pemulangan dan sebagainya. Tadi Menteri Perhubungan telah melaporkan tiket 100 persen dikembalikan karena sebenarnya sudah banyak orang yang booking tiket kesana untuk rekreasi dan sebagainya, tapi karena kasus ini maka semua penerbangan sudah diperintahkan untuk dikembalikan 100 persen, uang yang sudah diterima dibayarkan,” katanya. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.