Pakar UGM Sebut Varian Mu Tidak Seganas Varian Delta

Yovie Wicaksono - 9 September 2021
Ilustrasi. Foto : (shutterstock)

SR, Surabaya – Hingga saat ini kasus virus corona masih terus menghantui beberapa wilayah di dunia. Bahkan, terbaru muncul varian Mu atau juga dikenal sebagai B1621.

Varian Mu yang pertama kali ditemukan di Kolombia ini telah menyebar di 46 negara dan sebelumnya sudah ditambahkan dalam daftar pantauan WHO sejak 30 Agustus 2021 lalu.

Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Gunadi, mengatakan varian Mu atau B1621 sebagai penyebab Covid-19 tidak lebih ganas dengan varian delta.

Hal tersebut lantaran Organisasi Kesehatan Dunia sudah menyebutkan varian Mu sebagai kategori variant of Interest (VoI) atau yang perlu mendapat perhatian. Dibandingkan dengan varian Delta yang masuk kategori Variant of Concern (VoC) atau yang perlu diwaspadai. 

Meskipun varian baru ini belum terdeteksi di Indonesia, menurutnya perlu diantisipasi karena varian Mu diketahui menyebabkan penurunan kadar antibodi baik karena infeksi ataupun vaksinasi. 

”Hasil riset awal menunjukkan varian Mu menyebabkan penurunan kadar antibodi netralisasi baik karena infeksi alamiah maupun vaksinasi, serupa dengan varian Beta. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut,” kata Gunadi.

Menurutnya, virus Covid-19 terus bermutasi dengan memunculkan varian-varian baru yang memiliki tingkat keganasan dan keparahan yang berbeda apabila terinfeksi. Namun demikian, bagi mereka yang sudah pernah terpapar Covid-19 ataupun yang sudah mendapat vaksin sudah memiliki kekebalan alami. 

“Kekebalan alami yang ditimbulkan oleh infeksi alamiah pasti ada, tapi seberapa besar bisa melindungi dari risiko terinfeksi varian lain diperlukan riset lebih lanjut,” tegasnya.

Kekebalan alami yang sudah terinfeksi walau belum vaksin menurutnya sama halnya mengukur efektivitas vaksin terhadap suatu varian dengan melakukan riset terlebih dahulu. Namun, antisipasi tetap diperlukan dengan melaksanakan protokol kesehatan secara ketat dan percepatan program vaksinasi.

Meski demikian, bagi mereka yang sudah vaksin menurutnya mampu meminimalkan tingkat keparahan apabila terpapar virus Covid-19 meski terinfeksi dengan varian yang berbeda. “Vaksin mencegah keparahan,” katanya.

Gunadi menyebutkan, hingga saat ini varian baru virus corona penyebab Covid-19 yakni B1621 atau varian Mu ini belum terdeteksi di Indonesia, namun perlu pengetatan pintu masuk ke Indonesia agar tidak sampai menyebar luas seperti varian delta sebelumnya. 

Pemerintah pun terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus Covid-19, termasuk dengan adanya varian Mu ini. Dimana pada Rapat Terbatas (Ratas) Evaluasi Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Senin (6/9/2021), Presiden Joko Widodo juga telah meminta jajarannya waspada terhadap varian Mu.

Menindaklanjuti arahan Presiden tersebut, Menhub Budi Karya Sumadi menegaskan bahwa pihaknya segera menyiapkan langkah-langkah untuk mencegah varian Mu masuk ke Indonesia. 

Budi telah meminta jajarannya untuk melakukan konsolidasi internal dan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, yakni Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kementerian Kesehatan, Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi, dan pihak terkait lainnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.