Kemiskinan dan Disabilitas: Lingkaran yang Perlu Diputus

Rudy Hartono - 5 June 2025
Pemkab Banyuwangi memberi pelatihan kerja konstruksi bagi disabilitas. (net)

SR, Surabaya -Tak banyak yang menyadari bahwa disabilitas dan kemiskinan ekstrem adalah dua hal yang saling memperkuat.

Orang miskin lebih rentan menjadi penyandang disabilitas karena kurangnya akses layanan kesehatan, gizi buruk, dan lingkungan yang tidak aman. Sebaliknya, orang dengan disabilitas lebih berisiko jatuh dalam kemiskinan karena terbatasnya akses pendidikan, pekerjaan, hingga layanan publik.

Sebuah studi dari Universitas Gadjah Mada (Kawistara, 2024) menegaskan hal ini. Berdasarkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, peneliti menemukan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kemiskinan ekstrem dibandingkan populasi umum.

Faktor seperti tinggal di desa, pendidikan rendah, atau bekerja di sektor informal memperburuk kondisi tersebut. Namun masalah ini tak bisa hanya diselesaikan dengan bantuan sosial sesaat. Perlu pendekatan inklusif dan berkelanjutan: akses pendidikan setara, pelatihan kerja yang ramah difabel, dan ruang publik yang benar-benar bisa diakses semua orang.

Prinsipnya sederhana: kemiskinan bukan hanya soal uang, dan disabilitas bukan hanya soal tubuh. Keduanya adalah soal akses. Dan ketika akses tidak adil, yang terjadi adalah ketimpangan yang berlapis.

Saat kita bicara tentang membangun masyarakat yang adil, jangan hanya pikirkan siapa yang paling cepat, tapi juga siapa yang paling terhambat. (*/dv/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.