Nostalgia di Kawasan Sidoarjo, Ada Bekas Pabrik Gula, Bangunan Belanda hingga Jembatan Sepanjang

Yovie Wicaksono - 9 March 2024
Aksi Treatikal di Jembatan Mayor Hasanuddin Sidik, Sepanjang. Foto : (pilarcakrawala.news)

SR, Sidoarjo – Kawasan Ketegan dan Sepanjang di kabupaten Sidoarjo, memiliki kisah tersendiri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah Water Toren yang dibangun pada 1929. Pegiat Sepanjang Heritage, Fikry Attamimi mengatakan, water toren ini adalah penyalur air leding yang diperuntukkan bagi masyarakat sekitar Sepanjang.

Hingga kini water toren masih berdiri kokoh di kawasan Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo. “Jadi, Water Toren Sepanjang, yang masih bisa kita lihat hingga saat ini adalah menara airnya PDAM era pemerintah kolonial Hindia Belanda yang bernama Gemeentelijk Waterleiding atau GWL,” ujarnya, Jumat (8/3/2024).

Dijelaskan, dulunya Sepanjang adalah kawasan penting bagi peradaban manusia kala itu. Adanya menara air atau water toren menandakan bahwa Sepanjang adalah kawasan strategis dan vital dalam segala hal.

Sementara itu, Pegiat Ketegan Heritage Andreas Wahyudi Saputro menambahkan, tidak hanya water toren saja, masih ada sisa-sisa peninggalan sejarah masa kuno hingga kolonial di Sidoarjo, khususnya di kawasan Ketegan dan Sepanjang. Diantaranya adanya beberapa Pabrik Gula, baik modern maupun tradisional.

Bukti nyata adalah masih adanya peninggalan cerobong Stoom bekas Pabrik Gula Ketegan yang tebalnya mencapai 1.5 meter. Pondasi “cerobong asap” ini identik pada pabrik pabrik besar era Hindia Belanda. Selain itu, beberapa waktu lalu juga ditemukan Chinese Mollen, sebuah penggilingan gula yang terbuat dari batu andesit di daerah Ngelom yang membuktikan bahwa industri gula tradisional sudah berkembang di era 1700an.

“Kalau kita merujuk pada peta Surabaya tahun 1850 kawasan Ketegan dan Sepanjang ini sangat banyak perkebunan tebu. Ini membentang antara Wonokromo sampai Menanggal, sehingga produksinya pun sangat luar biasa banyak. Ini terbukti ada 2 pabrik gula, sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu dikawasan Sepanjang, yaitu Ketegan dan Tawangsari,” terang Andreas,

Ditambahkan, pabrik gula saat ini yang masih beroperasi di Sidoarjo tinggal 2 saja, yaitu Pabrik Gula Candi Baru dan Krembung, dari yang sebelumnya berjumlah puluhan. “Jika dibandingkan dengan pabrik gula masa lalu, yang produksi gulanya bisa mencapai ribuan ton lebih banyak dari Pabrik Gula saat ini. Artinya, saat ini, di Sidoarjo, produksi gula semakin berkurang,” tandasnya.

Data Sepanjang Heritage menyebut peninggalan Belanda hingga kini masih bisa dilihat, salah satunya dari rumah-rumah warga. Dari Peta tahun 1706, peradaban sudah tampak diwilayah Sepanjang. Jadi tidak heran apabila saat melintas di kawasan Ketegan dan Sepanjang, akan terlihat rumah penduduk yang peninggalan di era VOC Belanda.

Kawasan Ketegan dan Sepanjang adalah kawasan yang tidak lepas dari nilai sejarah yang bisa dipelajari hingga kini. Bahkan Kawasan Ketegan dan Sepanjang ini juga menjadi saksi bisu perjuangan Arek Arek Suroboyo melawan Sekutu dalam Pertempuran Surabaya selama 21 hari, karena bekas Pabrik Gula Ketegan pernah dijadikan Markas Divisi TKR Jawa Timur, Pos Kesehatan dan Rumah Sakit.

Yang tak kalah hebat, Jembatan Sepanjang dekat Water Toren pernah diledakkan oleh Mayor Hasanuddin Sidik, Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Teknik Gajah Mada pada 29 November 1945 untuk menghambat laju tank Inggris yang akan masuk wilayah Sepanjang untuk menguasai Sidoarjo.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap Mayor Hasanuddin Sidik yang ikut gugur saat meledakkan jembatan tersebut, pada 29 November 2023 lalu atas kesepakatan bersama para pegiat sejarah, Karang Taruna dan perwakilan warga yang dihadiri oleh Muspika Taman Sidoarjo memberikan nama Jembatan Sepanjang sebagai Jembatan Mayor Hasanuddin Sidik. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.