Nasib Pelaku Seni Karawitan di Masa Pandemi, Jual Alat Kesenian hingga Alih Profesi

Yovie Wicaksono - 29 July 2021
Ketua Sanggar Karawitan Manunggal Rasa Kediri, Dekky Susanto. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Adanya pandemi Covid-19 hingga masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) seperti sekarang, menjadi masa sulit bagi para pelaku seni dan budaya di Kota Kediri. Mereka harus kehilangan mata  pencaharian yang selama ini cukup bisa diandalkan dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Bahkan, mereka terpaksa harus menjual segala peralatan kesenian yang dimiliki untuk menyambung kebutuhan  hidup sehari-hari. Kondisi ini dialami oleh salah satu pelaku kesenian karawitan di Kota Kediri.

“Dia sebagai pelaku kesenian karawitan, alat musik tradisional gamelan sudah dijual. Kini tinggal beberapa ekor ayam yang dimiliki, itu pun mau dijual juga. Sekarang beliau sedang sakit, dia hidup sebatang kara, tidak punya punya keluarga,” ujar Ketua Sanggar Karawitan Manunggal Rasa Kediri, Dekky Susanto.

Meski sepi job, sejumlah pelaku seni karawitan ini tidak mau berputus asa dan berpangku tangan. Mereka lebih memilih untuk tetap bisa bekerja meskipun harus  beralih profesi, mulai dari tukang, kuli hingga pencari rumput. Semua dilakukan demi mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Banyak sekali para pengrawit yang beralih profesi, sebagai tukang, kuli. dan pencari rumput. Rumputnya  dijual kepada yang punya ternak sapi dan kambing, kalau tidak begitu ya tidak makan. Saya merasa prihatin,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dekky Susanto tidak mau menyebut identitas pemain musik karawitan yang dimaksud. “Yang jelas beliau warga Kediri,” singkatnya.

Ia pun berharap kepada Pemerintah Daerah (Pemda) agar memberi perhatian khusus kepada nasib para seniman, khususnya yang ada di Kediri saat ini.   Deky Susanto tidak memungkiri jika perhatian yang diberikan oleh Pemda memang ada, namun dirasa masih kurang.

“Untuk pelaku seni, kita pernah mendapat apresiasi seni dari Provinsi tiap tahun tapi tidak banyak. Terus juga pernah memberikan kita pertunjukan virtual tapi sangat minim, karena memang  mungkin terbatas dari anggaran daerah. Harapan saya tidak berhenti disitu, semoga nanti terus diadakan bisa membuat pelaku seni hidup, walaupun sedikit kekurangan tidak sampai tidak menjual alat keseniannya,” harapnya.

Sekadar informasi, Sanggar Karawitan Manunggal Rasa Kediri sendiri menggelar latihan seminggu dua kali, tiap hari Selasa dan Rabu di Gedung Pendopo Kilisuci. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.