Mitos dan Fakta Terkait Kusta

Yovie Wicaksono - 11 February 2023
Ilustrasi. Foto : (Liputan6)

SR, Surabaya – Hari Kusta Sedunia baru saja diperingati pada 29 Januari 2023 lalu. Peringatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit kusta serta menyerukan kepada setiap orang untuk menghormati martabat orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK). Mengingat, mereka pun juga punya hak dan kesempatan yang sama dengan warga masyarakat lainnya.

Kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait penyakit kusta perlu terus ditanamkan karena masih ada mitos tentang kusta yang menyebar di masyarakat. Berikut empat mitos soal kusta yang masih beredar :

1. Kusta adalah penyakit kutukan dan turun temurun

Faktanya, kusta disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium leprae. Artinya, penyakit ini dapat dijelaskan secara medis dan bukan merupakan kutukan. 

Namun demikian, risiko menderita kusta dapat semakin besar jika salah satu anggota keluarga terkena penyakit ini.

2. Kusta mudah menular

Faktanya, kusta tidak akan mudah menular kecuali jika melakukan kontak berulang dengan penderita. Banyak yang percaya bahwa kusta dapat menular dengan mudah karena penyebarannya bisa melalui udara, tetapi itu salah besar.

Seseorang baru akan tertular kusta jika terbukti melakukan kontak langsung yang berulang dengan pengidap seperti penggunaan pakaian atau handuk bersama.

3. Kusta tidak dapat disembuhkan

Faktanya, pengidap kusta dapat sembuh secara total jika mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Dengan terapi multiobat (Multi Drug Therapy/MDT) dan diawasi langsung oleh dokter, kusta dapat disembuhkan secara total tanpa ada disabilitas.

4. Tidak menimbulkan komplikasi serius 

Faktanya, kusta yang tidak segera ditangani dapat memicu beberapa komplikasi serius, termasuk cacat anggota tubuh.

Jika tidak ditangani dengan segera, pasien akan berisiko besar mengalami komplikasi kesehatan yang serius seperti kerusakan saraf, masalah fungsi penglihatan, hingga disabilitas fisik di beberapa bagian tubuh.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa stigma yang masih terus melekat kepada OYPMK sama sekali tidak berdasar.

Mereka bukan lagi pasien, mereka telah sembuh total. Yang masih berstatus pasien pun tidak perlu dijauhi dengan semena-mena karena justru dapat menghambat upaya penyembuhan.

Menghentikan diskriminasi, prasangka dan stigma terhadap penyakit kusta menjadi salah satu cara untuk menangani penyakit ini. Dengan cara demikian akan lebih banyak orang yang sadar terhadap penyakit kusta sehingga dapat melakukan deteksi lebih dini dan penanganannya bisa lebih cepat.

Wakil Ketua Perhimpunan Mandiri Kusta Nasional, Al Qadri menyampaikan, proses pengobatan kusta membutuhkan waktu lama yaitu 6-12 bulan.

“Untuk itulah mereka perlu dukungan orang-orang di sekitar, misalnya dengan mengingatkan untuk tidak lupa mengonsumsi obat setiap hari,” kata Al Qadri.

Al Qadri yang juga OYPMK bercerita, semasa menjadi pasien berpuluh tahun yang lalu, dia tetap tinggal serumah dengan keluarganya. Makan bersama mereka dan tidur sekamar dengan adik-adiknya.

Namun, tidak seorangpun dari mereka yang tertular. Kedua anaknya yang kini telah dewasa pun, tidak mengidap kusta meski lahir dari ayah dan ibu yang merupakan OYPMK.

“Oleh karena itu, mari hapus berbagai stigma yang selama ini terlanjur kita lekatkan pada penyandang kusta meski penyakit itu sendiri telah lenyap dari mereka,” katanya. (*/vi/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.