Miris, Warga Naiki Jembatan Kerek Darurat di Perbatasan Ponorogo – Trenggalek
SR, Ponorogo – Warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur membangun jembatan gantung darurat secara swadaya setelah jembatan penghubung Ponorogo–Trenggalek ambrol diterjang banjir pada awal Januari 2026.
Penjaga jembatan gantung, Suyanto, Selasa (17/2/2026), mengatakan inisiatif membangun jembatan darurat muncul dari kesepakatan warga agar anak-anak tetap bisa sekolah dan aktivitas ekonomi tidak terhenti.
“Kalau menunggu lama, kasihan anak-anak sekolah dan warga yang mau berobat. Jadi kami sepakat bangun sendiri seadanya,” ujarnya.
Menurut dia, sebagian besar warga Purworejo memang lebih dekat mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan di Trenggalek dibanding ke pusat layanan di Ponorogo. Jika jembatan tidak bisa dilalui, warga harus memutar lebih dari 20 kilometer.
Jembatan sepanjang 70 meter dengan lebar 2,5 meter itu sebelumnya menjadi akses utama menuju Dusun Pegat, Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Pondasi jembatan hanyut di salah satu sisi akibat derasnya arus sungai, sehingga memutus jalur pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan warga.
Tak ingin aktivitas lumpuh berlarut, warga secara swadaya mengumpulkan bahan dan tenaga untuk membangun jembatan gantung sederhana sepanjang sekitar 40 meter. Tali baja, kayu jati, dan besi bekas dimanfaatkan untuk merangkai akses penyeberangan darurat di atas aliran sungai. Kini, jembatan gantung itu menjadi satu-satunya jalur tercepat bagi warga yang hendak menuju Trenggalek.
Setiap pagi, puluhan pelajar melintasi jembatan tersebut dengan langkah hati-hati. Salah satunya Riski Kurniawan, siswa kelas XII SMAN 1 Bodag, Trenggalek. “Sejak kecil sekolah di Trenggalek karena lebih dekat. Sekarang kalau berangkat dan pulang ya lewat jembatan gantung ini. Takut sebenarnya, apalagi kalau goyang,” katanya.
Di bawah jembatan, arus sungai masih mengalir deras, sisa hujan yang kerap turun di kawasan perbukitan Ngrayun. Papan kayu yang menjadi pijakan terasa bergetar setiap kali dilalui dua atau tiga orang bersamaan.
Dalam kondisi darurat medis, kata Suyanto, warga bahkan pernah menggendong pasien menyeberangi sungai saat arus memungkinkan.
Setiap hari, sekitar 30 hingga 50 warga melintasi jembatan gantung tersebut. Saat jam masuk sekolah, jumlahnya bisa mendekati 100 orang.
Meski sadar jembatan itu hanya solusi sementara dan memiliki keterbatasan keamanan, warga tetap menjaganya bersama-sama. Mereka berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan permanen agar akses antarwilayah kembali aman dan normal. (*/ant/red)
Tags: jembatan kerek, ponorogo, superradio.id, Trenggalek
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





