Menyentuh Hati! Cara Crossline Rangkul Komunitas Punk Bertemu Tuhan
SR, Surabaya – Banyak pepatah mengatakan lebih baik tampang preman hati beriman daripada tampan beriman tapi hati preman. Jika biasanya kata-kata itu hanya menjadi kiasan, namun berbeda dengan Crossline.
Sebuah komunitas rohani kristen bergenre underground yang unik. Berani mendobrak stigma, merangkul anak jalanan, bertato, punk dan membuktikan bahwa hal tersebut tak menghalangi mereka untuk beriman.
Layaknya bunyi salah satu firman dalam alkitab yakni 1 Samuel 16:7 yang berisi : Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.
Berdiri di luar tembok gereja formal, gerakan yang berpusat di Surabaya dan Sidoarjo ini memanfaatkan persekutuan doa mingguan hingga panggung musik cadas seperti punk, metal, dan hardcore sebagai wadah pemulihan dari keterikatan narkoba serta kerasnya kehidupan jalanan.
Pendiri sekaligus Ketua Umum Crossline Family, Jack Temaluru atau Bang Jack (44), menegaskan, penampilan fisik yang eksentrik sama sekali tidak membatasi seseorang untuk beribadah dan memiliki hubungan karib dengan Sang Pencipta. “Kita bisa memuji Tuhan kita tanpa harus dengan gaya yang kaku, tapi dengan style kita sendiri. Jargon kita ini ‘Sahabat Orang Berdosa’. Kita bersahabat dengan orang berdosa, tetapi tidak setuju dengan dosanya,” ujar Bang Jack.
Pria asal Sidoarjo ini menjelaskan bahwa tato, tindik, maupun musik cadas hanyalah bentuk ekspresi dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, bukan bentuk kriminalitas. Cara berdoanya pun unik. Jika biasanya kidung jemaat identik dengan lagu rohani yang mengalun lembut, Crossline justru memilih jalur lain. Mereka melantunkan doa dan pujian pada Tuhan diiringi melodi rock dan lagu-lagu cadas.
Selain persekutuan doa dan dua acara musik rohani tahunan (Rock for Jesus dan Christ Rock Party), wujud ibadah mereka juga diimplementasikan melalui aksi sosial pembagian makanan gratis di jalanan serta pelayanan rutin pembinaan mental rohani saban bulan untuk para penghuni di dalam Lapas dan Rutan. “Lebih baik tampang preman hati beriman daripada tampang beriman hati preman. Jangan lihat orang itu dari yang luar, kenali kami dengan baik,” tegas Bang Jack.
Dari Keresahan Anak Jalanan Mencari Tuhan
Perjalanan komunitas ini berakar pada tahun 2005. Di sebuah gereja perkampungan di Surabaya yang diinisiasi Gatot. Seorang pria berlatar belakang punk, yang ingin merangkul anak-anak muda jalanan yang kerap ditolak lingkungan gereja formal karena kebiasaan mabuk dan gaya hidup liar mereka. Gatot melahirkan nama Crossline yang terinspirasi dari garis polisi (police line). Sebuah simbol garis batas (line) yang melingkupi dan melindungi salib (cross).
Setelah gerakan sempat vakum antara tahun 2008 hingga 2012, Gatot menarik diri pada tahun 2015 dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Bang Jack. Momen krusial kebangkitan pergerakan ini pun tercetus pada 5 Mei 2014. Ketika Bang Jack mengumpulkan sekira 20 pemuda lintas genre underground di Taman Bungkul dan menggelar perhelatan rohani bertajuk Pentakosta di Siola, Surabaya. Momen tersebut secara resmi menandai berdirinya Crossline Family lengkap dengan logo, visi-misi, dan struktur pembinaan rohani yang teratur.
Dari Surabaya, pergerakan ini meluas ke Madiun dimulai dari pengelola rumah singgah setempat yang mempelajari metode Crossline hingga ke Sidoarjo. Lalu merambah ke California, Amerika Serikat, yang dipelopori oleh Stefan (seorang drummer underground asal Mojokerto) lewat persekutuan doa daring saat pandemi.
Dalam mengelola komunitas, Bang Jack memegang teguh idealisme Do It Yourself (DIY) khas punk dan menolak keras eksploitasi pihak luar. “Kami menolak ditunggangi yayasan yang mengambil keuntungan atau mengeksploitasi kami. Kami berdiri dengan prinsip DIY supaya gerakan ini tetap bebas membagikan kasih Tuhan tanpa disetir,” kata Bang Jack.
Pasang-Surut Pemulihan Diri
Di balik kencangnya deru musik cadas, Crossline menjadi ruang rehabilitasi spiritual dan sosial nyata bagi para anggotanya yang dahulu terperosok dalam lingkaran hitam obat-obatan terlarang dan kerasnya kehidupan jalanan.
Perjalanan pemulihan ini tercermin jelas dalam rekam jejak Ketua Crossline Surabaya Waris Yonathan (36) dan Ketua Crossline Sidoarjo Hafidz Ghojali (33).
Waris menceritakan bagaimana dirinya telah menjadi anak jalanan sejak lulus SMP tanpa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA. Masa mudanya dihabiskan dalam cengkeraman berat alkohol dan narkoba hingga sempat berulang kali masuk penjara. Harapannya sempat pupus karena lingkaran kehidupannya hanya berputar di antara penjara, sakit, gila, atau mati overdosis.
Meski sempat mengenal Crossline sejak remaja bersama Gatot, iman Waris yang belum matang membuatnya jatuh-bangun dan kembali terjerat kecanduan. Namun seakan mendapat hidayah, titik balik spiritualnya terjadi saat ia kembali berkomitmen penuh pada tahun 2018 di tempat rehabilitasi.
“Dulu hari keseharian ya mabuk dan narkoba. Lingkarannya kehidupan kayak gitu kalau enggak penjara, sakit, meninggal, ya gila. Kalau saya disuruh untuk berubah, banyak orang yang menyuruh saya untuk berubah ya enggak berubah-berubah kalau enggak Tuhan sendiri,” tutur Waris yang kini memimpin persekutuan doa mingguan Surabaya sejak tahun 2023.
Untuk memagari komunitas dari risiko kecanduan berulang (relapse), Waris menerapkan aturan disiplin yang sangat ketat yang dikenal sebagai “Cross Line”. Alhasil aturan selektif ini menyaring keanggotaan Surabaya menjadi 10 orang yang berkomitmen penuh untuk pulih.
“Ketika kamu masih sakit (terikat kecanduan), aku terima. Tapi sakitmu jangan kamu tularkan ke anak-anak yang enggak sakit. Kalau di dalam keterikatan kamu membuat orang lain ikut sakit, ya mending kamu enggak usah ikut,” tegas Waris.
Kisah pemulihan serupa dialami oleh Hafidz Ghojali. Pindah dari Jakarta ke Bali pada tahun 2014 dengan niat memperbaiki hidup, Hafidz justru terperosok makin dalam sebagai pengguna narkoba suntik, pecandu alkohol, hingga perokok berat.
Momen pertemuannya dengan Waris di sebuah fasilitas rehabilitasi pada tahun 2018, saat Crossline menggelar acara di sana menjadi awal mula kebangkitan rohaninya. Mengingat jarak tempuh yang jauh, Hafidz lantas memprakarsai lahirnya cabang Sidoarjo yang kini menaungi 24 anggota.
Sebagai pemimpin termuda di antara anggota yang lebih senior, proses spiritual ini membentuk Hafidz menjadi pribadi yang lebih bijaksana, santun, dan mampu berhenti total dari narkoba suntik, alkohol, hingga rokok. “Teman-teman dari a lalu suka bertanya, ‘Kok kamu bisa sih?’ Saya bilang, kamu keluar dari zona yang seperti itu. Kalau tidak punya keinginan kuat untuk berubah, tidak akan pernah bisa,” ujar Hafidz. (hk/dd/red)
Tags: beriman, crossline, insyaf, komunitas punk, kristen
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





