Menikmati Panorama di Restoran Ala Pedesaan di Lereng Gunung Wilis

Yovie Wicaksono - 21 December 2020
Suasana di Restoran Tangga Langit. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Suara gemericik air terdengar mengalir tenang dari bawah area persawahan di Dusun Sanan, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Di atas area persawahan tersebut terhubung sebuah jembatan panjang yang terbuat dari bambu mengarah pada sebuah bangunan restoran yang dikonsep ala tradisional.

Posisi restoran ini berada di atas ketinggian dengan menawarkan pemandangan hamparan sawah. Disamping itu, pengunjung bisa melihat secara langsung pemandangan Kota Kediri dari atas.

Karena posisi restoran berada di ketinggian, di bawah lereng kaki Gunung Wilis, restoran berkonsep tradisional ala pedesaan ini dinamakan Restoran Tangga Langit.

“Kita berasumsi dekat dengan langit, dalam arti positif ya menikmati alam ini. Termasuk persawahan yang berbentuk terasering di bawahnya. Sawah terasering ini natural apa adanya. Nanti disini juga bakal ada kolam ikan, karena debit air disini melimpah,” ujar Chieff Widianto Heru Kusuma, salah satu konseptor Restoran Tangga Langit.

Disamping itu, jika pada waktu pagi hari, pengunjung bisa naik ke lantai dua untuk melihat matahari terbit.

“Jadi nggak perlu pergi jauh ke Gunung Bromo, cukup disini aja,” ujar pria berusia hampir mendekati setengah abad tersebut.

Karena banyak pesepeda yang melintas di rute Jalan Desa Selopanggung Kecamatan Semen, maka untuk menggaet para komunitas pecinta sepeda agar datang berkunjung, pihaknya nantinya akan menyediakan spot khusus foto bagi mereka.

“Spot sepeda di depan nanti ada podium, pura-pura ngangkat sepeda, sepedanya kita gantung. Serasa sudah sampai di puncak. Minggu besok kita ada event komunitas sepeda, Mereka request jam 08.00 WIB berjumlah sekitar 30 orang,” imbuhnya.

Direncanakan ada sekitar 5-7 spot foto yang nantinya disediakan oleh pihak pengelola. Tidak ketinggalan juga ada glamour camping semacam rumah sewa di area lokasi.

Lebih lanjut, pria kelahiran Kota Kediri ini menjelaskan ide untuk membuat restoran ini berawal secara tidak sengaja ketika dirinya bersama temannya bernama Daniel sedang mengadakan reuni bersama rekan satu sekolah di masa SMA.

“Idenya muncul karena kita sering ngumpul, kita dari kecil dan lahir di Kediri. Kami semua asli Kediri, berinisiatif untuk membuat ini semua. Pak Daniel sebagai inisiator, beliau ahli dibidang bangunan. Kalau saya lebih fokus di bagian makanan dan minuman,” ujarnya.

Keseluruhan luas restoran ini diperkirakan mencapai 3 ribu meter persegi. Khusus untuk luas restoran sendiri 24 x 12 meter yang terdiri dari bangunan dua lantai. Ruangan tersebut bisa mengakomodir atau menampung kurang lebih 250 pengunjung.

Karena masih di tengah pandemi, ada ketentuan protokol kesehatan yang harus ditaati, maka diberlakukan aturan jaga jarak untuk tempat duduk pengunjung. Selain itu, pihak pengelola juga menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer.

Restoran Tangga Langit ini baru dibuka 16 Desember 2020. Meski baru beberapa hari dibuka, ternyata antusias masyarakat sangat tinggi untuk datang. Bahkan sebelum dibuka pun, Widianto mengaku acap kali mendapatkan pertanyaan dari masyarakat tentang kapan restoran dibuka.

“Pada tanggal 16 Desember 2020 sudah dibuka, respon masyarakat cukup bagus. Sebenarnya ketika pada awal progres membangun banyak orang lalu lalang menanyakan kapan buka, boleh foto nggak jadi macem macem,” ujar pria lulusan Diploma Perhotelan ini.

Bahkan ada salah satu pengunjung yang sempat mengutarakan niatnya untuk menggelar acara arisan ditempat ini pada Maret 2021.

Dari sekian karyawan yang direkrut, 40 persen diantaranya diutamakan dari masyarakat desa setempat. Selain penyerapan tenaga kerja, pihak pengelola juga melakukan pelatihan dan pemberdayaan UMKM bagi warga.

“Proses bangun ini hampir memakan waktu 2 bulan, dari perencanaan sampai detik ini. Bambu-bambu kita fungsikan, kita kerjasama dengan warga kita beli bambunya. Ini pekerjanya rata-rata tetangga semua, bangku kita bikin sendiri,” katanya.

Bahkan, bahan pokok untuk membuat makanan dan minuman lebih diutamakan dibeli langsung dari masyarakat lingkungan sekitar.

Semua menu makanan dan minuman yang dijual di Restoran Tangga Langit ini menggunakan proses pemasakan metode manual brew. Sedikitnya lebih dari 10 varian minuman yang disajikan. Sementara untuk menu makanan hampir 20.

“Nanti nasi kita sajikan sekali bayar boleh nambah lagi sepuasnya. Ada tiga pilihan nasi, yakni nasi putih, nasi jagung dan nasi liwet, mungkin nanti juga ada tiwul, tapi bukan nasi goreng tiwul, tiwul natural lebih enak,” katanya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.