Mengubah Cara Pandang terhadap Tenaga Kerja Disabilitas

Rudy Hartono - 7 June 2025
Ilustrasi - Pelatihan menjahit bagi disabilitas. (net)

SR, Surabaya – Ketika mendengar istilah “penyandang disabilitas bekerja”, masih banyak yang menganggapnya sebagai bentuk belas kasih atau kewajiban administratif semata.

Padahal, dunia kerja yang inklusif bukan sekadar soal kuota, tetapi soal mengubah pola pikir: bahwa disabilitas bukan penghalang kompetensi.

Di balik label ‘berkebutuhan khusus’, ada individu yang punya potensi besar, kemampuan teknis, dan semangat juang yang tinggi. Sayangnya, tak sedikit perusahaan yang masih ragu, menilai dari keterbatasan fisik semata tanpa menggali kapabilitasnya lebih dalam.

Inilah mengapa keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di bidang ketenagakerjaan menjadi penting. Menurut laporan terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan RI, hingga Oktober 2024, ULD berhasil menempatkan 770 penyandang disabilitas di berbagai perusahaan—melampaui target 750 orang yang ditetapkan untuk tahun tersebut.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa ketika penyandang disabilitas diberi akses pelatihan, pendampingan, dan ruang untuk menunjukkan kemampuannya, mereka bisa dan mampu bersaing di dunia kerja. Tapi, pekerjaan rumah kita belum selesai.

Yang dibutuhkan bukan hanya lembaga perantara seperti ULD, melainkan komitmen dari perusahaan untuk menyambut keberagaman. Dunia kerja yang sehat bukan hanya tentang efisiensi, tapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan kesempatan.

Menerima pekerja difabel bukan soal memberi “kasihan”, tapi mengakui bahwa semua orang—tanpa kecuali—berhak membangun masa depan lewat kerja yang bermakna. (*/dv/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.