Makna Lebaran Ketupat

Yovie Wicaksono - 17 May 2021
Salah satu penjual anyaman ketupat di Pasar Wonokromo Surabaya, Sri (45). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Bagi masyarakat Jawa, di setiap lebaran selalu ada tradisi yang berlangsung turun temurun, yakni riyoyo (lebaran) ketupat.

Dalam filosofi Jawa, ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat. Ketupat dan lepet ini sendiri bukanlah ajaran Jawa, melainkan hanya sebagai simbol.

“Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan laku papat, artinya papat tindakan,” kata Budayawan Andik Sancoko, Senin (17/5/2021).

Ngaku lepat disebut juga sebagai tradisi sungkeman yang mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, mohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain. Sedangkan laku papat memiliki 4 arti yakni lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Lebaran berarti telah usai, yang menandakan berakhirnya waktu puasa. Luberan yang artinya meluber atau melimpah ajakan bersedekah untuk kaum miskin, mengeluarkan zakat fitrah dan leburan yang artinya sudah usai dan lebur, dimana dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Dan yang terakhir adalah laburan yang berasal dari kata labur dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding, dengan maksud agar manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

Selain nama, bahan pembungkus pada ketupat dan lepet juga memiliki arti. Andik menyebut, janur sebagai pembungkus diambil dari bahasa arab yaitu “Ja’a nur” yang berarti telah datang cahaya.

“Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia, saat orang sudah mengakui kesalahan, maka hati nya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki, karena hati nya sudah di bungkus cahaya (Ja’a nur),” jelas pria yang juga menjabat Wakil Kepala Adat dan Tradisi Badan Kebudayaan Nasional (BKN) DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ini.

“Lepet bisa disebut juga silep kang rapet, monggo di pun silep ingkang rapet, mari kita kubur atau tutup yang rapat, jadi setelah ngaku lepat (memohon maaf). Menutup kesalahan yang sudah di maafkan, jangan di ulangi lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengket nya ketan dalam lepet,” imbuhnya.

Ketupat sendiri memiliki dua versi tentang siapa yang menciptakannya pertama kali. Namun yang paling banyak dipercayai adalah versi Sunan Kalijaga.

“Ada dua versi yang banyak disebut orang, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga,  dan Sultan Agung Hanyakra Kusuma,  tapi banyak yang menyebut Kanjeng Sunan Kalijaga,” pungkasnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.