Membaca Prasasti Wurare Akhiri Kelas Jawa Kuna AjaKami

Rudy Hartono - 21 January 2025
Para peserta studi ekskursi Aksara Jawa Kuna tengah mencoba membaca aksara yang terdapat di prasasti wurare yang ada di situs Joko Dolog, Surabaya, Minggu (19/1/2025). (foto: lia/superradio.id)

Surabaya, SR – Komunitas “AjaKami” dari Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo resmi menutup Kelas Belajar Aksara Jawa Kuna periode keempat pada Minggu (20/1/2025). Acara ini menandai selesainya perjalanan belajar selama 12 pertemuan sejak Agustus hingga Januari. Bertempat di situs arca Joko Dolog Surabaya, acara ini diikuti oleh 10 peserta yang berasal dari berbagai daerah, seperti Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Lamongan dan Malang.

Komunitas Aksara Jawa Kuna dari Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo usai diskusi sejarah dan membaca prasasti Wurare di situs Joko Dolog Surabaya, Minggu (19/1/2025). (dok. AjaKami)

Salah satu fasilitator kelas, Didit menjelaskan, meskipun beberapa peserta tidak selalu hadir penuh karena kesibukan masing-masing, progres belajar mereka menunjukkan hasil yang memuaskan.

“Antusiasmenya cukup besar, meskipun ada yang bolong-bolong. Tapi, dalam 6 pertemuan awal saja, peserta sudah mampu membaca dan mengalihaksarakan prasasti-prasasti sederhana. Ini membuktikan peningkatan yang signifikan,” ujar pria berkacamata itu.

Pria yang menjadi pelatih sejak periode kelas kedua itu juga menambahkan, capaian belajar sangat bergantung pada kerajinan peserta.

“Aksara Jawa Kuna itu kompleks, dengan 33-34 aksara konsonan yang masih ditambah aksara vokal dan bentuk lainnya. Tapi kalau peserta rajin, mereka akan lebih cepat paham dan hafal,” katanya.

Didit menambahkan, kelas pada periode ini memiliki ciri khas unik, yaitu lokasi belajar yang berpindah-pindah. Selain prasasti Wurare yang ada di situs Joko Dolog Surabaya, lokasi pembelajaran juga dilakukan di prasasti Cunggrang Pasuruan, Petirtaan Belahan Lereng Penanggungan dan Prasasti Kamalagyan di Sidoarjo.

“Pemilihan lokasi ini bertujuan untuk menghindari kejenuhan sekaligus memberikan pengalaman langsung dalam mempelajari inskripsi kuno,” paparnya.

Sementara itu, Prasasti Wurare dipilih sebagai pamungkas sebab tampilan aksara sangat ‘cantik’ dan cukup jelas untuk dijadikan bahan pembelajaran. Pada kesempatan ini, peserta dibagi empat kelompok dengan masing-masing diberikan tugas untuk menemukan sejumlah kata.

Dengan program ini, komunitas AjaKami berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk melestarikan aksara Jawa Kuna, sebuah warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan identitas bangsa.

“Semoga program ini semakin besar dan banyak yang mau belajar aksara Jawa Kuna. Tujuan awalnya memang untuk melestarikan, dan itu harus terus kita wujudkan bersama,” tutup Didit dengan penuh semangat.

Di kesempatan yang sama, Zuhrotul Ainy, salah satu peserta dari Sidoarjo, mengaku mendapatkan banyak hal baru dari kelas ini.  “Awalnya ikut karena iseng, tapi ternyata seru. Selain belajar sejarah leluhur, saya juga dapat teman baru,” terangnya.

Saat ini, perempuan yang kerap disapa Zua ini mengaku lebih bisa menulis dan membaca walaupun dengan bantuan teks panduan. “Rencananya saya mau ikut kelas Batch 5 untuk lebih mendalami,” ungkapnya.

Bagi saudara yang berminat, Komunitas “AjaKami” akan kembali membuka Kelas Belajar Aksara Jawa Kuna Periode 5 pada bulan Maret mendatang, yang akan berlangsung selama bulan puasa hingga Agustus 2025. Tak dipungut biaya sepeser pun, pendaftaran bisa dilakukan melalui akun Instagram @kelas_ajakami. (nio/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.