Malam Satu Suro di Pesarean Panglima Perang Majapahit

Yovie Wicaksono - 1 September 2019
Malam satu Suro di pesarean Panglima Perang Majapahit, Eyang Kudo (Judo) Kardono, Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Puluhan masyarakat mendatangi pesarean Panglima Perang Majapahit, Eyang Kudo (Judo) Kardono di Jalan Cempaka, Surabaya, untuk menjalankan tradisi malam satu Suro atau malam tahun baru Islam, Sabtu (31/8/2019).

Tradisi diawali dengan doa bersama, kemudian menikmati polo pendem, yakni makanan tradisional jawa yang diambil dari tanah, seperti kacang, talas, ketela, singkong, dan lainnya.

“Polo pendem itu makanan yang diambil dari dalam tanah, kependem, seperti kacang, singkong, talas, ketela, mbote, dan lainnya,” ujar juru kunci pesarean Eyang Kudo (Judo) Kardono, Sumali (80), pada Super Radio, Minggu (1/9/2019) dini hari.

Menurut Sumali, adanya sajian polo pendem merupakan bentuk rasa syukur atas berkah (makanan) yang diberikan Tuhan melalui tanah.

“Polo pendem ini makanan tradisional jawa yang sederhana dan sehat untuk dikonsumsi,” imbuhnya.

Selain polo pendem, makanan yang identik dalam tradisi jawa saat bulan Suro adalah bubur suro dan bubur sengkolo. Tak ketinggalan juga, nantinya akan diadakan gelaran wayang.

“Nanti tanggal 28 September ada wayangan untuk nguri-uri budaya jawa. Terlebih, Eyang ini juga senang dengan wayang,” katanya.

Gelaran wayang tersebut berbeda dari biasanya, yakni tanpa adanya tarian remo dan hanya membawakan lakon atau cerita yang baik.

“Disini kalau wayangan ndak mau ada tari remonya. Lakonnya juga yang baik, seperti Arjuno, Srikandi,” imbuhnya.

Salah satu masyarakat yang datang, Ridwan Wahyu mengatakan, ini kali pertamanya datang ke pesarean Eyang Kudo (Judo) Kardono saat malam satu Suro.

“Ini baru pertama, biasanya di Ampel. Saya cari yang lebih dekat dengan rumah dan disini juga tidak seramai di Ampel, lebih tenang,” ujar pria asal Surabaya ini.

Sumali mengatakan, Suro adalah waktu terbaik untuk tirakat, mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Suro itu waktunya untuk tirakat, mendekatkan diri kepada Tuhan. Yang perlu saya tegaskan adalah datang kesini bukan berarti musyrik, karena kita tetap meminta hanya kepada Tuhan, selain itu dosa besar. Disini untuk mengingat leluhur,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.