Mahfud MD Sampaikan Sejumlah Isu Hukum Terkini di Indonesia

Yovie Wicaksono - 22 January 2020
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD. Foto : (Super Radio/Niena Suartika)

SR, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyampaikan sejumlah isu terkait dengan permasalahan hukum yang ada di Indonesia. Hal tersebut disampaikan usai melaksanakan audiensi dengan Jaksa Agung, ST Burhanuddin.

“Saya ingin menyampaikan beberapa informasi yang di media massa masih simpang siur dan menjadi spekulasi kemudian menjadi sumber berita hoax. Beritanya sendiri yang aslinya benar tapi kemudian menjadi berkembang sedemikian rupa,” kata Mahfud MD di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (22/1/2020).  

Pertama mengenai masalah pelanggaran HAM berat yang menyangkut kasus Semanggi 1 dan Semanggi 2. Menurut Mahfud, masalah itu sudah clear baik di DPR maupun di tingkat Kejaksaan Agung dan Kemenkopolhukam. Diceritakan bahwa dulu pada tahun 2001 DPR pernah menyatakan kasus Semanggi 1 dan 2 itu bukan pelanggaran HAM berat.

“Dulu DPR pernah mengatakan begitu. Tetapi, kalau itu dianggap masih menjadi catatan, Kejaksaan Agung siap menyelesaikan. Tapi beritanya di koran, Jaksa Agung mengatakan Semanggi 1 dan 2 bukan pelanggaran HAM, padahal yang dikatakan dulu DPR pernah mengatakan dan sekarang karena masih menjadi catatan, Kejaksaan Agung siap menyelesaikan itu dan siap secara politis nanti di pertemukan oleh DPR bersama Komnas HAM,” kata Mahfud.

“Secara yuridis akan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, (jadi) tidak ada perdebatan lagi soal itu dengan DPR. Pada sidang berikutnya juga sudah, tidak ada pernyataan Semanggi 1 itu bukan pelanggaran HAM berat, dan pernyataan itu DPR pernah menyatakan, dan sekarang menurut Kejaksaan jika masih menjadi masalah Kejaksaan Agung siap menyelesaikan,” sambungnya.

Kedua mengenai kasus Jiwasraya dan Asabri di mana hukum tetap berjalan. Mahfud mengatakan, Kejaksaan Agung sudah menyampaikan secara detail langkah yang sudah dilakukan dan semua pihak supaya menunggu. 

Ia juga meminta masyarakat untuk turut mengawasi, tetapi jangan diwarnai dengan berita-berita yang tendensius hoax baik Asabri maupun Jiwasraya.

“Di dalam hukum itu, hukum pidana ada jalurnya sendiri kalau sudah masuk ke ranah hukum pidana tentu tidak bisa dibelokkan ke perdata kalau memang ada unsur pidananya. Perdata akan diselesaikan, pidana itu tidak berubah hanya karena sesudah diketahui, lalu ditempuh langkah-langkah keperdataan, itu tidak boleh di dalam hukum pidana. Kita ikuti saja perkembangannya,” kata Mahfud.

Isu ketiga yaitu kasus anak SMA di Malang di mana ia membunuh pembegalnya dan kini menjadi ramai di media sosial. Menurut Mahfud, kasusnya sama dengan di Bekasi yang pernah ia ikut. Diceritakan, waktu itu ia ikut membebaskan anak muda di Bekasi tersebut yang dirampok, dibegal, lalu berkelahi dengan pembegalnya dan dibunuh, tapi tiba-tiba jadi tersangka.

“Lalu kita turun tangan, besoknya dibebaskan, pada waktu itu masih tersangka. Ini yang di Malang sudah pengadilan sehingga pemerintah, Kejaksaan Agung, saya lalu ikut campur tangan, dari pengadilannya tunggu Hakim. Tetapi yang keliru dari berita itu dikatakan kasusnya sama dengan yang di Bekasi tetapi anak ini dituntut hukuman mati karena pembunuhan berencana,” kata Mahfud.

Ia mengatakan, pemberitaan itu tidak sepenuhnya benar karena tuntutan yang sesungguhnya anak SMA tersebut dikembalikan atau diserahkan ke panti rehabilitasi sosial. Dijelaskan, ancaman hukuman mati hanya sebagai alternatif.

“Di situ ada tuntutan tentang itu alternatif-alternatif itu, ya kita ungkapkan, itu biasa saja dalam hukum, jadi jangan didramatisir orang membela diri kok dituntut hukuman mati. Nanti kan alternatif yang paling mendekati itu adalah tidak dihukum pidana malahan, tidak dihukum penjara, diserahkan ke panti rehabilitasi sosial, jadi itu jangan diributkan,” ujarnya.

Mahfud MD juga meminta masyarakat untuk mempercayakan permasalahan tersebut pada Hakim yang lebih mudah memberikan alternatif-alternatif berdasar logika hukum yang ada. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.