Mahasiswa ITS Kembangkan Skrining TBC Berbasis Batuk

Rudy Hartono - 3 January 2026
Salah satu anggota tim TBCare ITS Nikolas Stanislaus Sanjaya (kanan) saat melakukan proses fabrikasi rangkaian elektronik pada perangkat lunak alat perekam suara batuk. (sumber: rri)

SR, Surabaya – Tingginya penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia menyumbang beban kasus TBC terbesar kedua di dunia. Mahasiswa ITS menghadirkan inovasi deteksi dini TBC melalui sistem skrining berbasis suara batuk.

Sistem ini dirancang mengatasi keterbatasan akses alat skrining dan diagnosis standar bagi masyarakat. TBC disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang berkembang biak pada jaringan paru.

Gejala utamanya batuk kronis lebih dari dua hingga tiga minggu. Skrining berbasis suara batuk menjadi pendekatan inovatif, hemat biaya, dan mudah dijangkau masyarakat.

Ketua tim Nathania Cahya Romadhona menjelaskan pengolahan sinyal batuk memiliki pola spektral tidak beraturan. “Model kecerdasan buatan umumnya fokus fitur akustik seperti Mel-Frequency Cepstral Coefficients,” katanya, Jumat (2/1/2026).

Tim memanfaatkan deep learning untuk menangkap karakteristik akustik kompleks pada suara batuk TBC. Data diolah menggunakan YAMNet guna memvalidasi jenis suara dalam berbagai kondisi lingkungan.

Tim bimbingan Dr Eng Dhany Arifianto memodifikasi arsitektur deep learning untuk meningkatkan akurasi. Ekstraksi MFCC diproses sebagai input model LSTM membedakan batuk TBC dan non-TBC.

Tim TBCare merancang perangkat perekaman batuk terintegrasi sistem Internet of Things. Perangkat terhubung basis data rumah sakit untuk pengiriman serta pengelolaan data medis efisien.

Inovasi TBCare lolos validasi medis dengan sensitivitas klasifikasi batuk tuberkulosis sebesar 76 persen. Sistem menggunakan data 17 pasien RSUA dengan tingkat kesiapterapan teknologi enam. (*/rri/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.