Ludruk di Tengah Pandemi

Yovie Wicaksono - 18 June 2020
Cak Lupus dan Noniati dalam konten Youtube berjudul KENTRUNG #dirumahsaja. (Foto : Istimewa)

SR, Surabaya – Pandemi Covid-19, tidak menyurutkan semangat Kasuwanto (56) dan Noniati (50), pegiat seni ludruk di Surabaya, untuk berkarya. Selama dua bulan terakhir, melalui akun Youtube miliknya, berbagai karya mulai dari parikan, jula-juli, dagelan, hingga kidungan diunggahnya. Dengan peralatan seadanya, mereka tetap berkarya di rumah.

Saat ini mereka fokus tentang edukasi dan imbauan untuk masyarakat terkait virus corona, seperti kidung jula juli Covid-19 yang diunggahnya pada 13 April 2020.

“Tujuan utamanya agar tidak stres dengan menghibur diri sendiri, kalau sudah bisa jadi karya kita bisa pergunakan menghibur orang lain dengan cara diunggah di Youtube,” ujar pria yang akrab disapa Cak Lupus ini, Kamis (18/6/2020).

Apa yang dilakukan Cak Lupus dan istri, adalah salah satu cara untuk bisa tetap berkreasi, menghibur masyarakat sekaligus mencoba peruntungan dari hasil karyanya itu. Apalagi Cak Lupus merupakan pendiri sekaligus ketua Ludruk Arboyo yang memiliki anggota 40 orang.

Pria yang telah menggeluti kesenian Ludruk sejak tahun 1982 ini mengaku terus memberikan suntikan semangat dan menguatkan anggotanya di tengah situasi ini. Melalui konten yang dihasilkannya di media sosial juga sebagai cara untuk mendorong anggotanya agar tetap berkarya meskipun dirumah saja dengan memanfaatkan media sosial yang ada.

Ke depan, Cak Lupus berencana untuk membuat sebuah pagelaran Ludruk dengan sistem virtual yang memberjual belikan link untuk mengakses pagelaran virtual tersebut.

“Rencananya bulan Juli akan digelar. Mau tidak mau itu, agar mencukupi kebutuhan batin itu. Kalau tidak ya, kondisi sudah seperti ini, teman-teman malah jadi stress dan jadi penyakit malahan,” ujarnya.

Dikatakan, sejak awal bulan April sejumlah pertunjukan Ludruk yang telah diagendakan jauh hari, terpaksa dibatalkan, bukan lagi diundur. Total, ada tiga job di Surabaya dan empat job di Jakarta yang dibatalkan. Pertunjukkan juga belum jelas kapan bisa dilakukan kembali.

Pada situasi normal, dalam satu bulan rerata minimal ada empat kali pertunjukan yang digelar. Belum lagi acara periodik yang digelar oleh pemerintah kota maupun provinsi.

“Kalau nilai nominal saya pikir kita tidak bisa sampaikan, karena relatif sesuai dengan apa yang kita terima. Tapi minimal cukup untuk kehidupan sehari-hari, untuk anak sekolah, saya pikir lebih dari cukup. Tapi sekarang nggak karu-karuan. Cukup aja udah Alhamdulillah,” ujar Cak Lupus.

Terkait pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir, Cak Lupus mengatakan, paling tidak seniman baru dapat berada di kondisi normal pada tahun 2021.

Menurutnya, pegiat seni berbeda dengan pekerja lainnya. Dimana pekerja saat ini sudah bisa beraktivitas kembali meskipun dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat, namun hal tersebut tidak secepat itu berlaku di dunia kesenian yang bersifat hiburan.

“Kalau pekerja yang lain bisa beraktivitas asal tetap taat dengan protokol kesehatan, tapi kalau pekerja seni yang bersifat hiburan mungkin tidak secepat itu. Kita masih harus bersabar. Ya terang-terangan aja, karena uang yang mau dibuat tanggapan sudah habis,” katanya.

Saat ini para pegiat ludruk seperti Cak Lupus dan istri sedang dalam berjuang di tengah Pandemi Covid-19.  Untuk bisa terus memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka harus pintar mengatur keuangan yang saat ini hanya mengandalkan sisa tabungan keluarga.

Mereka terbantu dengan adanya sembako dari pemerintah kota, provinsi, serta pihak swasta yang peduli terhadap kesenian atau seniman.

Mereka juga berharap kondisi segera pulih, sehingga dapat kembali berkarya dan melakukan regenerasi untuk terus menjaga eksistensi kebudayaan tradisi ini. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.