Langkah Kesiapsiagaan BPBD Jatim Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi

Yovie Wicaksono - 24 November 2021
Ilustrasi Hujan. Foto : (kulkann)

SR, Surabaya – Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Erwin Indra Widjaja mengatakan, hampir seluruh wilayah di Jawa Timur berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, hingga angin puting beliung.

“Potensi itu cukup merata di Jatim. Tapi ada beberapa kabupaten yang juga kita waspadai seperti daerah yang punya sejarah banjir bandang seperti Pasuruan, Nganjuk, dan Ngawi misalkan. Lalu juga harus kita perhatikan daerah yang lain, seperti kemarin di Tulungagung di sekitar Waduk Wonorejo yang terjadi puting beliung sehingga ada pohon tumbang dan sebagainya. Ini yang juga menjadi perhatian, daerah-daerah yang punya potensi walaupun kecil tapi tetap kita minta untuk waspada,” ujar Erwin, Rabu (23/11/2021).

Sebagai bentuk antisipasi dan kesiapsiagaan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan BPBD Kabupaten/Kota untuk menghadapi bencana hidrometeorologi basah ini.

“Kami dengan BPBD Kabupaten/Kota secara bersama-sama menyiapkan segala sesuatu yang terkait dengan kemungkinan terjadinya bencana yang ada di Jatim,” ujarnya.

“Karena ini sesuai dengan informasi atau peringatan dini dari BMKG terkait dengan fenomena La Nina atau bencana hidrometeorologi yang basah yang diperkirakan terjadi mulai November sampai Februari mendatang atau bahkan bisa sampai Maret 2022,” imbuhnya.

Erwin memastikan segala peralatan dan logistik di semua BPBD Kabupaten/Kota maupun Provinsi sudah siap dan telah mencukupi.

“Semua sudah standby di masing-masing sesuai dengan kapasitas dan kemampuan, termasuk makanan siap saji maupun peralatan yang dibutuhkan ketika ada bencana,” katanya.

Dibanding dengan tahun sebelumnya, Erwin mengaku tidak ada yang istimewa dari persiapan penanganan bencana yang dilakukan. Namun lebih ketat dalam proses pengecekan sarana prasarana dan kesiapan personil.

“Tapi secara khusus memang kalau kita ini menghadapi ancaman yang eskalasinya lebih besar, minimal kesiapsiagaan yang kita tingkatkan, peralatan juga kita siapkan dan harus siap digunakan setiap saat, itu yang lebih penting. Jadi lebih ketat lah pengecekan, kemudian juga kesiapan personil untuk menghadapi bilamana ada bencana. Dan yang paling penting adalah strategi atau SOP apa yang harus kita kerjakan ketika terjadi bencana atau terjadi sesuatu di daerah,” tandasnya.

Ia menegaskan, hal yang tak kalah penting lagi adalah bagaimana meningkatkan ketangguhan masyarakat saat pra bencana, menghadapi bencana, hingga pasca bencana.

Untuk itu, beberapa program telah dilakukan, baik melalui BNPB, BPBD Provinsi, hingga BPBD Kabupaten/Kota.

“Salah satunya adalah Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah kemudian ada Desa Tangguh Bencana (Destana), dan Keluarga Tangguh Bencana yang akan segera dibentuk,” kata Erwin.

Menurutnya, hal ini penting dilakukan karena ketangguhan harus dibangun mulai dari sektor yang paling kecil, yakni keluarga, tetangga, kemudian desa.

“Dan di Jatim sudah dilakukan itu semua. Destana itu ada di daerah yang cukup rawan bencana. Tahun ini, kita sudah membentuk 40 Destana,” ujarnya.

“Selain itu, tahun ini, anggaran untuk kegiatan pra bencana juga cukup, yakni kurang lebih sekitar Rp 40 miliar. Sementara untuk tahun depan, anggarannya turun sekitar 15 persen karena fokus anggaran ini kan masih di Covid-19. Dari anggaran yang disediakan itu kita alokasikan khusus terkait dengan kegiatan penguatan kapasitas, komunitas, kemudian persiapan sarana dan prasarana kita,” sambungnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.