Kulit Kakao, Turunkan Pencemaran Logam Berat Timbal

Yovie Wicaksono - 22 June 2019
3 Mahasiswa FST UNAIR Manfaatkan Kulit Kakao untuk Turunkan Pencemaran Logam Berat Timbal. Foto : (Humas UNAIR)

SR, Surabaya – Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat yang sering disebut timah hitam. Timbal merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup karena bersifat karsinogenik, dapat menyebabkan mutasi, terurai dalam jangka waktu yang lama dan toksisitasnya cenderung tidak berubah.

Untuk mengatasi hal itu, mahasiswa prodi Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil melakukan penelitian mengenai kulit buah kakao atau cokelat sebagai adsorben yang mampu menyerap kandungan logam Pb (II) dalam air. Penelitian itu merupakan salah satu proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang berhasil mewakili UNAIR sebagai PKM yang didanai Kemristek Dikti.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan air sampel yang diambil dari sumur warga Desa Banjardowo, Jombang. Lokasi penelitian terletak di dekat tempat pembuangan akhir (TPA) Banjardowo yang berpotensi menyebabkan pencemaran limbah logam berat salah satunya logam timbal (Pb). Penelitian ini dilakukan oleh Mega soekarno S, Rifqi Wisnu P, dan Niswatun Indana Jariyah dengan bimbingan dari Eko Prasetyo K.

Mengenai hal itu, Mega sapaan akrab ketua tim mengatakan, sehari-hari warga sekitar TPA Banjardowo, Jombang, memanfaatkan air sumur untuk kebutuhan pokok seperti makan, minum, dan mencuci. Air sumur berpotensi besar terkena rembesan air dari TPA sehingga perlu di teliti kandungan logam berat yang ada di dalam air sumur tersebut.

“Lokasi rumah warga dengan TPA sangat dekat dan warga lebih memilih air sumur dari pada akses air PDAM, kalau airnya mengandung logam berat timbal maka dapat membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang,” ujarnya.

Menambahkan pernyataan Mega, salah satu anggota tim, Rifqi mengatakan, kulit buah cokelat berdasarkan penelitian sebelumnya memiliki kandungan protein, selulosa, pektin dan lignin sehingga berpotensi mengikat logam berat seperti logam timbal (Pb) dari larutan. Industri pengolahan biji cokelat, lanjutnya, menghasilkan limbah kulit buah cokelat mencapai 75 persen dari total produksi buah cokelat sehingga potensi timbulan sampah kulit buah cokelat yang tidak termanfaatkan dan terbuang begitu saja akan tinggi.

“Harapannya bisa menemukan solusi yang murah dan efisien untuk mengurangi kadar logam berat di sumur warga,” tandas Rifqi.

Dari penelitian yang dilakukan oleh tiga mahasiswa Teknik lingkungan FST UNAIR itu, lanjutnya,  diharapkan dapat menemukan solusi baru memanfaatkan kulit buah cokelat sebagai adsorben logam berat Pb (II), sehingga kulit buah cokelat dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk memberikan solusi bahan alternatif pengolahan air tanah yang tercemar logam berat timbal (Pb) dari pada tidak termanfaatkan. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.