Kikis Stigma, Puan Hayati Jatim Gelar Pelatihan Public Speaking

Rudy Hartono - 2 September 2024
Fachrul Umarianto memberi pelatjhan pada sesi praktik public speaking kepada Puan Hayati Jawa Timur di Gedung Nawasena, Surabaya, Minggu (1/9/2024). (foto:niken oktavia/superradio.id)

SR, Surabaya – Dalam rangka pemberdayaan Perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Puan Hayati Jawa Timur menyelenggarakan diskusi terpumpun di Gedung Nawasena Sanggar Candi Busana Sapta Darma, Surabaya, Minggu (1/9/2024).

Ketua Puan Hayati Jawa Timur, Ade Sri Hayati menjelaskan diskusi ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan penghayat di Jawa Timur dan strategi komunikasi di ruang publik.

“Banyak sekali isu di luar sana. Untuk Puan Hayati kan, kita sering kali dianggap masih primitif, klenik atau dukun. Nah itu kita mencoba untuk memudarkan,” tuturnya.

Ade melanjutkan, misi Puan Hayati adalah selalu berbuat baik kepada siapapun, kepada bangsa dan negara dan setiap manusia. Puan Hayati mencoba memberikan pengertian kepada masyarakat umum, arti hidup bermasyarakat.

“Kita harus bisa mengimplementasikan dan mengkomunikasikan pemikiran kita kepada masyarakat umum. Jangan sampai kita terkotak-kotak hanya karena warna kulit atau agama. Ini yang kita sedikit kekusahan karena image penghayat jelek atau dianggap klenik,“ bebernya.

Ade menuturkan, dulu penghayat kepercayaan merasa terdiskriminasi dan seringkali dianggap tidak memiliki moral dan agama. Sehingga, pihaknya rutin melakukan komunikasi dan workshop untuk membangun sebuah kebiasaan baik dan membuka pikiran anggota sekaligus orang sekitar.

“Kita lebih bisa menyampaikan dan mengkomunikasikan tentang penghayat kepada masyarakat luas. Akhirnya, stigma tentang klenik dan primitif itu mulai memudar,” tuturnya.

Sementara itu, Fachrul Umarianto selaku pemateri public speaking menjelaskan, Puan Hayati memiliki masalah ambiguitas di dunia luar, sebab masih sedikit sekali masyarakat yang mengakui keberadaannya. Terlepas dari mereka minoritas, Puan Hayati ini atau penghayat kepercayaan ini keberadaannya sudah diakui negara.

“Nah, itu yang membuat teman-teman Puanhayati memiliki kendala ketika dia tidak bisa meyakinkan orang lain kalau mereka ini telah diakui negara,” terangnya.

“Itu gunanya public speaking untuk dipelajari Puan Hayati agar mereka tidak memiliki kendala berkomunikasi dengan orang yang belum memahami Puan Hayati itu sendiri,” lanjutnya.

Pria yang kerap disapa Aldo Kendo itu berharap, anggota Puan Hayati tak lagi insecure dan menjadi lebih percaya diri untuk membuka diri kepada orang lain.

“Perkara nanti orang lain ada yang tidak setuju, ada yang mencibir, itu sudah biasa. Tantangan berkomunikasi,” tegasnya.

Aldo berpesan, Puan Hayati wajib belajar public speaking untuk mencari solusi yang selama ini dirasakan. Jika tidak, mereka akan susah untuk mengenalkan organisasinya kepada masyarakat luas.

“Ketika semua anggota Puan Hayati mau dan bisa menjadi public speaker yang baik, saya rasa puan hayati akan lebih besar dari sekarang,” pungkasnya. (nio/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.