Ketua PBNU: Sejak Lahir Manusia Miliki Amanat Kemanusiaan

Yovie Wicaksono - 9 August 2019
Ketua PBNU KH. Said Aqil Siroj (tengah) dan Ketum PBDNSI Suhadi Sendjaja (kanan) dalam The Biggest Talk Show in Surabaya; Kemerdekaan Batin, Kemerdekaan Kita, Kemerdekaan Indonesia yang bertemakan Bhinneka Tunggal Ika, di Buddhayana Dharmawira Centre (BDC) Surabaya, pada Kamis (8/8/2019) malam. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj mengatakan, manusia sejak lahir memiliki amanat yang melekat pada dirinya, yakni kemanusiaan.

“Manusia sejak lahir memiliki amanat yang melekat pada dirinya, sebelum adanya amanat agama, amanat kedudukan, amanat keluarga atau amanat yang lain, yakni amanat kemanusiaan,” ujarnya dalam The Biggest Talk Show in Surabaya; Kemerdekaan Batin, Kemerdekaan Kita, Kemerdekaan Indonesia yang bertemakan Bhinneka Tunggal Ika, di Buddhayana Dharmawira Centre (BDC) Surabaya, pada Kamis (8/8/2019) malam.

Said menambahkan, amanat kemanusiaan tersebut berupa bagaimana manusia harus membangun kehidupan yang harmonis. Kemudian agama diturunkan oleh Tuhan untuk memperkuat, membangun, meningkatkan insaniyah kemanusiaan, untuk keharmonisan manusia.

“Tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan. Maka jangan mengatasnamakan agama untuk kekerasan,” imbuhnya.

Hal tersebut menjadi salah satu poin penting dalam menjalin persatuan dan kesatuan bangsa. Bahwa dengan berbagai macam perbedaan agama, ataupun suku, ras, dan bahasa, yang terpenting adalah nilai kemanusiaan.

“Faktor perbedaan bukanlah penyebab terjadinya perang atau konflik tapi justru perbedaan itulah sebagai peran pemersatu bangsa. Kita ini satu bangsa. Bhinneka Tunggal Ika,” tandasnya.

Pendapat tersebut diamini oleh Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (PBDNSI) Suhadi Sendjaja. Ia mengatakan, disetiap diri manusia adalah Bhinneka Tunggal Ika.

“Didalam diri kita itu juga  Bhinneka Tunggal Ika, ada paru-paru, ginjal, hati (bhinneka), tapi semua organ ini satu tujuannya, yakni untuk bertahan hidup (tunggal ika). Begitu pula Indonesia,” ujarnya.

Suhadi menambahkan, dengan berbagai perbedaan tersebut, sikap toleransi saja tidak cukup tanpa adanya sikap menerima sepenuhnya.

“Toleransi itu masih punya jarak, dan itu tidak cukup. Harus saling menerima sepenuhnya, baik buruknya, kita ini keluarga besar yang bernama Republik Indonesia, kita ini saudara. Kita harus toleransi, menerima dan menghormati satu sama lain sepenuhnya,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.