Kasus NH, Belum Dapat Dikatakan Kelainan Orientasi Seksual

Yovie Wicaksono - 7 July 2019
Ilustrasi

SR, Surabaya – Psikolog dari Lembaga Layanan Psikologi Geofira, Riza Wahyuni mengatakan, perilaku NH (23) pria asal Tuban yang menjual istrinya melalui media sosial, belum bisa dikatakan mengalami kelainan orientasi seksual sebelum dilakukan pemeriksaan mendalam.

Sebelumnya, dengan alasan untuk membayar hutang Rp 8 juta kepada rekannya untuk biaya operasi ceasar sang istri, NH telah menerima empat permintaan dengan tarif Rp 1,5 juta per satu jam.

“Saya tidak bisa mengatakan apakah ini gangguan psikologis atau bukan. Tapi kelainan orientasi seksual didalam ilmu kesehatan jiwa itu ada. Nah untuk mengatakan seseorang ini mengalami kelainan seksual atau tidak itu butuh pemeriksaan detail, harus diperiksa dulu oleh psikolog dan psikiater,” ujar Riza kepada Super Radio, Minggu (7/7/2019).

Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam, dan ternyata memang memiliki kelainan, Riza mengatakan, NH harus di intervensi atau upaya untuk mengubah perilaku, pikiran, atau persasaan seseorang kearah lebih baik.

“Nah kalau memang demikian, berarti dia memang harus di intervensi. Tapi ingat, dalam kasus-kasus kriminal, kita tidak bisa meng-SP3-kan (memberikan Surat Penghentian Penyidikan Perkara) orang tersebut. Tetap di proses hukum, tapi dia mendapatkan intervensi. Karena SP3 itu bisa dilakukan pada mereka yang psikotik, gangguan jiwa berat,” imbuhnya.

Riza mengatakan, disamping kasus trafficking (menjual istri), perlu diketahui apakah didalamnya juga terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menyebabkan sang istri akhirnya mau melayani pria lain.

“Saya sebenarnya melihat, disamping trafficking, apakah kasus ini juga ada KDRT didalamnya, seperti kekerasan seksual atau kekerasan psikologi. Dalam hal ini dia memaksakan istrinya untuk melayani pria lain dengan alasan untuk membayar hutang persalinan sang istri,” imbuhnya.

Menurut Riza, banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan hal-hal diluar normatif, seperti kebutuhan biaya hidup, pengaruh media sosial, kecanduan menonton film dewasa yang akhirnya melakukan hal tersebut, ataupun karena faktor lain.

Riza menyarankan, jika seseorang merasakan ada yang tidak benar dalam dirinya karena beberapa faktor sehingga merasa tidak nyaman, segera datang ke psikolog atau psikiater agar tidak sampai melakukan hal-hal diluar normatif.

“Kalau merasa ada yang tidak benar pada diri kita, apakah kita mengalami masalah seksual, kesulitan konsentrasi karena pengaruh sosial media, atau lain sebagainya, maka jangan segan untuk datang ke ahlinya, tidak usah malu atau takut, karena bukan berarti yang datang ke psikolog itu sakit jiwa, tidak. Tapi untuk hidup yang lebih sehat secara fisik dan mental,” ujarnya.

Bila terjadi hal-hal yang melanggar hukum, baik didalam rumah tangga atau didalam lingkungan, segeralah melapor kepolisian terdekat dan menggunakan media sosial secara bijak.

“Kita tidak bisa membatasi penggunaan media sosial, tapi media sosial memberikan pengaruh terhadap perilaku masyarakat. Kami menyarankan kepada seluruh masyarakat untuk menggunakan media sosial dengan bijak,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.