Kamis Putih di Bangkalan, Meneladani Kerendahan Hati

Yovie Wicaksono - 2 April 2026
Suasana Misa Kamis Putih di Gereja Katolik Maria Fatima Bangkalan. Foto (Super Radio/Nur Ifa)

SR, Bangkalan – Suasana hening menyelimuti Gereja Katolik Paroki Maria Fatima Bangkalan, Kamis (2/4/2026) malam. Di bawah pendar lampu yang temaram, RP. Agustinus Hyacintus Purnomo, O.Carm—yang akrab disapa Romo Purnomo—perlahan berlutut di hadapan 12 umat.

Satu per satu, kaki mereka dibasuh, dikeringkan, dan dicium oleh sang pastor. Sebuah gestur kuno yang melambangkan kerendahan hati Yesus Kristus, namun kali ini dibawa dalam konteks zaman yang kian canggih.

Pada tahun ini, umat Katolik di satu-satunya paroki di Kabupaten Bangkalan tersebut mengusung tema yang unik dan relevan: “Berjalan Bersama Menjadi Pembawa Berkat di Era Kecerdasan Buatan”

Ketua Panitia Paskah, Yoseph Raymon Anggoro, menjelaskan tema ini bukan sekadar mengikuti tren. Ini adalah refleksi mendalam menyambut 100 tahun Keuskupan Malang, di mana gereja didorong untuk hadir di ruang digital.

“Tujuannya mengajak semua, tidak hanya kaum muda, untuk sadar dan bijak memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Kami ingin semangat melayani itu tidak berhenti di dalam gedung gereja, tapi juga dibawa ke dunia digital,” ujar Raymon yang saat itu mengenakan batik motif khas.

Putra-Putri Altar Memasuki Gereja Maria Fatima Bangkalan, di Misa Kamis Putih (2/4/2026). Foto : (Super Radio/Nur Ifa)

Bagi Raymon, teknologi adalah alat, namun kasih tetaplah inti dari kemanusiaan. Gereja menitikberatkan agar generasi yang tumbuh bersama algoritma tidak kehilangan empati untuk melayani sesama secara nyata.

Setelah prosesi pembasuhan kaki selesai, suasana hangat berubah menjadi duka yang “mencekam” melalui ritus penelanjangan altar (stripping of the altar).

Satu per satu kain taplak, bunga, dan ornamen dilepaskan. Tabernakel dibiarkan terbuka dan kosong.

“Ini simbol saat Yesus dilucuti pakaian-Nya sebelum disalib. Altar dikosongkan karena tubuh Yesus sudah tidak ada di sini, Ia sedang menjalani sengsara-Nya,” ungkap Raymon dengan nada suara yang merendah.

Malam itu tak berhenti di sana. Sekitar 450 kepala keluarga (KK) yang memenuhi gereja melanjutkan tradisi Tuguran. Dalam kelompok-kelompok kecil, mereka berjaga dalam doa, merenungi momen kesunyian Yesus di Taman Getsemani.

Mulai dari lansia di Lingkungan St. Petrus hingga anak-anak panti asuhan LKSA dan Orang Muda Katolik (OMK), mereka bergantian meresapi kesunyian selama 45 menit di hadapan Sakramen Mahakudus.

Sekadar informasi, masih dalam rangkaian Tri Hari Suci, Paroki Maria Fatima Bangkalan akan menggelar ibadah dan misa.

Jumat Agung (3/4/2026) akan diawali dengan Jalan Salib (07.00 WIB) dan Ibadat memperingati Wafatnya Yesus (15.00 WIB).

Sabtu Suci/Vigili Paskah (4/4/2026): Upacara Cahaya (18.00 WIB) dan Minggu Paskah akan digelar pada 07.00 WIB di paroki dan 10.00 WIB di Stasi Telang. (fa/red)

 

 

Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.