Ini Produk Kopi Unggulan Petani di Lereng Kaki Gunung Kelud

Yovie Wicaksono - 11 November 2020
Calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramono (tengah) saat akan mencoba kopi khas lereng kaki Gunung Kelud. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri –  Kopi kemasan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Dusun Laharpang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, sejak dua tahun terakhir berhasil merambah ke berbagai daerah di Jawa Timur bahkan mancanegara seperti Hongkong dan Mesir Kairo. 

Produk kopi hasil para petani setempat ini diberi label Kopi Laharpang yang memiliki dua jenis kopi, yakni robusta dan replica dengan kualitas rasa yang khas.

Salah satu anggota UMKM bagian pengiriman, Agus Pujianto mengatakan jika kopi jenis replica memiliki aroma yang khas seperti buah nangka dengan kadar kafeinnya lebih rendah jika dibandingkan dengan robusta.

Sementara kopi jenis robusta lebih menonjol ke rasanya yang pahit, lantaran dipengaruhi tanaman bergetah yang ada di samping kanan dan kiri tumbuhan kopi. 

“Bau kopi jenis replica khasnya seperti buah nangka, kalau robusta rasa pahitnya lebih nendang,” katanya.

Dua varian kopi bubuk kemasan ini dijual dengan harga Rp 22.500 ribu per bungkusnya yang berisi 250 gram.

Agus Pujianto menambahkan, selama beberapa tahun eksis di produk penjualan kopi,  kini usaha UMKM rintisan tersebut terus berkembang dan sudah memiliki 6 mesin roasting dan mesin packing kemasan. Dalam sehari, mereka bisa produksi sebanyak 100-150 bungkus. 

Biji kopi yang berasal dari petani setempat ini per satu kilogram jenis robusta dibeli dengan harga antara Rp 21-22 ribu. Sementara untuk jenis replica  harganya sedikit mahal, yakni sekira Rp 30 ribu per kilogram.

Setelah produksi kopi jenis replica dan robusta berjalan sejak 2018 lalu. Kini kelompok petani setempat mencoba mengembangkan jenis kopi arabika. 

Kopi yang ditanam oleh petani lereng kaki Gunung Kelud ini biasanya berada  di ketinggian antara 900 – 1000 meter di atas permukaan laut. Masa panen tanaman kopi biasanya dalam satu tahun sebanyak 1 kali. Jika memasuki musim penghujan seperti sekarang tanaman kopi memasuki fase berbunga. Biasanya jika masa panen memasuki bulan Juni hingga Agustus.

“Kalau memasuki musim penghujan biasanya kopi mulai berbunga, jika masa panen masuk antara bulan 6, 7 dan 8. Meski masa panen sudah lewat tapi stok untuk saat ini masih ada,” ujar Hendro Kiswanto, bendahara atau keuangan UMKM.

Dalam rentang waktu satu tahun, semua hasil panen petani kopi mencapai kisaran 6-8 ton biji kering. Biji kering kopi tersebut kemudian masih disortir kembali.

Sementara itu ketua kelompok tani setempat, Nur Yakin mengaku, dalam masa pandemi seperti sekarang ini terjadi penurunan produksi kopi sampai 50 persen. Dimana sebelum pandemi bisa memproduksi sampai 3 kwintal, untuk sekarang hampir separuhnya, yakni 1,5 kwintal dalam kurun waktu 1 bulan.

“Itu sudah dalam bentuk produksi powder (bubuk), yang jelas itu karena kendala market tidak jalan (pandemi). Itu pun masih bagus jika dibandingkan UMKM yang lain lebih banyak gulung tikar pada saat pandemi. Untuk saat ini kita nggak,” ujar Nur Yakin. 

Guna menyiasati pemasaran produk agar tetap berjalan di masa pandemi, pihaknya bergantung pada penjualan online. “Untungnya kita marketing punya 2 cara, online dan offline. Kalau offline kita berhenti, karena masa pandemi. Kita pergunakan sistem onlinenya,” katanya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.