Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat Alami Peningkatan

Yovie Wicaksono - 18 July 2019
Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Foto : (Fajar)

SR, Jakarta – Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) dalam kurun waktu lima tahun mengalami peningkatan. Meskipun kesenjangan nilai IPKM kabupaten/kota masih bervariasi, namun pada sub indeks penyakit tidak menular mengalami penurunan.

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek mengatakan, dari data IPKM 2018 banyak informasi yang dapat dimanfaatkan. Indikator-indikator penyusun IPKM mencerminkan capaian program sebagai potret capaian pembangunan kesehatan wilayah.

“Untuk  mengetahui pencapaian pembangunan kesehatan, perlu adanya satu indikator kunci yang menggambarkan sampai tingkat kabupaten/kota. Untuk keperluan itulah, Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat disusun dan dikembangkan,” kata Nila, Kamis (18/7/2019).

Sementara itu, Kepala Badan Litbangkes, dr. Siswanto mengatakan, IPKM 2018 disusun dengan memanfaatkan sumber data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Susenas Maret 2018 terintegrasi Riskesdas 2018, dan pendataan Potensi Desa 2018. Secara umum, nilai IPKM tahun 2018 mengalami peningkatan dibandingkan IPKM tahun 2013.

Hasil dari IPKM 2018 menempatkan Provinsi Bali di peringkat tertinggi, sedangkan Provinsi Papua berada di peringkat terendah. Menurutnya, kesenjangan pada 2018 terlihat lebar di Provinsi Papua, sehingga hal ini harus menjadi perhatian semua pihak karena selama periode lima tahun ini Provinsi Papua tidak mengalami peningkatan bahkan kesenjangannya masih lebar.

“Diketahui juga 10 kabupaten/kota yang mencapai IPKM tertinggi yakni Gianyar, Solok, Kota Magelang, Tabanan, Kota Denpasar, Badung, Kota  Salatiga, Sarolangun, Sleman dan Kota Blitar. Sementara 10 kabupaten/kota yang IPKM nya perlu ditingkatkan adalah Pegunungan Arfak, Deiyai, Yalimo, Mamberamo Raya, Pegunungan Bintang, Nduga, Tolikara, Dogiyai, dan Paniai,” kata dr. Siswanto.

IPKM 2018 dihitung dengan menggunakan model IPKM yang dikembangkan tahun 2013. Indeks ini mengikutsertakan 30 indikator kesehatan yang dikelompokkan menjadi 7 sub indeks, yakni Kesehatan Balita, Kesehatan Reproduksi, Pelayanan Kesehatan, Perilaku Kesehatan, Penyakit Tidak Menular, Penyakit Menular, dan Kesehatan Lingkungan.

30 indikator penyusun IPKM mencerminkan capaian program dan sebagai potret capaian pembangunan kesehatan wilayah. Masih adanya kesenjangan antar wilayah menunjukkan masih perlunya terobosan program untuk meningkatkan capaian sehingga pembangunan kesehatan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.

“Perhatian semua pihak perlu mengarah pada pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan mencakup semua tingkatan dalam dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan geografik. Pembangunan daerah diharapkan dapat mengarah pada pembangunan yang lebih baik,” kata dr. Siswanto. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.