Harmoni Imlek 2026 di Klenteng Cokro Surabaya dalam Balutan Tradisi Tri Dharma
SR, Surabaya – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa (17/2/2026) berlangsung khidmat di Klenteng Hian Thian Siong Tee atau yang lebih dikenal sebagai Klenteng Cokro, di Jalan HOS Cokroaminoto, Tegalsari, Surabaya. Sebagai tempat ibadah Tri Dharma yang menaungi tiga ajaran sekaligus yaitu Tao, Buddha, dan Khonghucu.
Klenteng ini menjadi simbol toleransi yang kental di ‘jantung’ kota Surabaya. Suasana spiritual terasa pekat sejak memasuki gerbang dengan aroma hio (dupa) yang menenangkan berpadu dengan pendar cahaya lilin, menyinari ornamen naga dan altar yang tertata rapi, menciptakan ruang kontemplasi yang menghubungkan umat dengan leluhur mereka di tengah dinamika kehidupan urban.
Dalam ritual sembahyang menyambut Tahun Kuda Api ini, tata cara peribadatan dilakukan dengan penghormatan mendalam kepada Thien (Tuhan), Dewa, dan leluhur.
Robert, salah satu pengurus yang membantu operasional di Klenteng Cokro, menjelaskan bahwa meskipun ritual dilakukan di satu tempat, terdapat perbedaan media persembahan antara Dewa dan leluhur. Umat membakar kertas emas bermotif dewa atau Kim Cua sebagai persembahan kepada Dewa, sedangkan untuk leluhur menggunakan kertas perak atau Gin Cua.
“Tempat ibadah ini memberikan sarana bagi tiga ajaran. Orang Buddha, Khonghucu, atau Tao bisa sembahyang di sini, karena intinya adalah memelihara tradisi dan penghormatan,” ujar Robert menegaskan inklusivitas klenteng tersebut.

Sesajen Wajib Imlek
Meja altar dipenuhi sesajen yang tidak hanya berfungsi sebagai persembahan, tetapi juga sarat akan simbolisme harapan dan doa.
Robert merinci sajian wajib meliputi buah-buahan tanpa duri serta aneka jajanan pasar. “Jajanan yang intinya mekar atau meletek itu tujuannya agar rezekinya ikut merekah. Ada juga kue Tok berwarna merah yang memiliki makna keberuntungan tersendiri,” jelas Robert.
Tradisi unik lainnya yang dijelaskan adalah akulturasi budaya melalui sajian Lontong Cap Go Meh, sebuah adaptasi kuliner Tionghoa terhadap kearifan lokal Jawa yang menggantikan sajian asli dari Tiongkok, menandakan betapa cairnya asimilasi budaya di Surabaya.
Sementara itu, Soni, pengurus Klenteng Cokro, menyoroti aspek historis dan arsitektural bangunan yang menjadi saksi bisu perkembangan kota. Menurutnya, Klenteng Cokro bukan sekadar rumah ibadah, melainkan pusat spiritual yang memadukan arsitektur tradisional dengan fungsi sosial yang memperkuat ikatan komunitas.
“Di sini, ritual keagamaan itu menyatu dengan perayaan budaya. klenteng ini menjadi simbol bahwa Surabaya tumbuh dari keberagaman, di mana tradisi Tionghoa turut memperkaya identitas kota,” ungkap Soni.

Doa dan Harapan Imlek
Memasuki tahun 2026 yang berada di bawah naungan elemen Kuda Api, terdapat harapan spesifik yang dipanjatkan umat. Filosofi “Kuda” yang lincah dan “Api” yang melambangkan semangat diterjemahkan sebagai momentum untuk bergerak cepat dan tegas dalam menghadapi tantangan ekonomi. Robert menambahkan bahwa karakter hewan kuda yang ‘giras’ atau gesit harus diimbangi dengan semangat yang menyala.
“Kita bisa melambangkan api sebagai semangat. Kita harus bisa bersikap tegas dan cepat untuk menghadapi masalah, supaya tahun ini semua bisa lancar dan terhindar dari kesulitan,” tutur Robert.
Rangkaian ibadah ini ditutup dengan pemahaman bahwa sesajen yang dipersembahkan adalah bentuk rasa syukur atau ujub terima kasih yang nantinya akan membawa berkah bagi keluarga saat dibawa pulang. Durasi persembahan pun tidak memakan waktu lama, biasanya hanya satu hari sebelum diturunkan atau dibagikan, memastikan kesegaran dan keberkahan yang berputar. (js/red)
Tags: imlek, klenteng cokro, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





