Gerakan Indonesia Tertib, Tekankan Tertib Berlalu Lintas dan Perbaikan Pasar Tradisional

Yovie Wicaksono - 20 September 2019
Deputi Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kemenko Polhukam,  Irjen Pol Carlo B. Tewu dalam kegiatan Rembuk Nasional Gerakan Indonesia Tertib di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (20/9/2019). Foto : (Super Radio/Niena Suartika)

SR, Banjarmasin – Gerakan Indonesia Tertib (GIT) yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) memfokuskan pada dua masalah strategis, yakni tertib berlalu lintas dan merevitalisasi pasar tradisional.

“Kita harus melakukan revolusi mental dan Gerakan Indonesia Tertib tahun ini fokus pada bagaimana kita tertib berlalu lintas dan revitalisasi pasar,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kemenko Polhukam,  Irjen Pol Carlo B. Tewu dalam kegiatan Rembuk Nasional Gerakan Indonesia Tertib di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (20/9/2019).

Carlo mengatakan,  masalah tertib lalu lintas ini merupakan masalah yang masih sering terjadi di Indonesia. Korban yang ditimbulkan pun setiap tahun cukup besar.

“Korban kecelakaan lalu lintas ini hampir sama seperti dengan korban narkoba. Banyak masyarakat yang masih kurang sadar akan tertib lalu lintas,  oleh karena itu kami akan mengkampanyekan melalui GIT ini,” kata Carlo.

Selain itu,  pemerintah juga akan fokus merevitalisasi pasar tradisional. Menurut Carlo, saat ini persaingan semakin ketat, baik antara pasar tradisional dengan pasar modern.

“Saat ini karena banyaknya pasar modern maka pasar tradisional mulai tersisihkan. Oleh karena itu, kita harus juga bersaing dengan pasar modern. Caranya adalah kita harus bikin pasar tradisional lebih nyaman,  tertib dan manusiawi, sehingga pembeli tidak lagi ke pasar modern tapi ke pasar tradisional karena itu budaya kita dan itu yg akan kita kembangkan,” kata Carlo.

Selain sebagai pasar untuk kegiatan perekonomian masyarakat, menurut Carlo, pasar tradisional juga bisa dimanfaatkan sebagai tujuan wisata, misalnya saja Pasar Terapung yang ada di Banjarmasin. Namun,  karena kurangnya penataan dan infrastruktur yang memadai maka pasar tradisional terlihat kurang tertata dan bersih.

“Kita melihat bahwa ada sektor perdagangan masyarakat di pasar tradisional itu yang perlu kita benahi,  caranya adalah kita tertibkan agar supaya lebih nyaman, lebih manusiawi, orang datang ke situ senang karena bisa bertemu dengan warga,  tetangga. Kalau pasar modern kan beda, tidak bisa seperti itu,” kata Carlo.

Gerakan Indonesia Tertib merupakan bagian dari gerakan revolusi mental yang dijabarkan dalam visi membangun budaya tertib untuk mewujudkan generasi Indonesia emas.

Gerakan revolusi mental yang secara sadar telah tumbuh adalah individu-individu dalam masyarakat juga tercermin dari tingkat kesadaran masyarakat dalam gaya hidup bersih dan sehat, tertib, berpartisipasi aktif dalam kegiatan demokrasi, serta menggerakkan ekonomi kreatif.

Kegiatan ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimistik generasi muda Indonesia dengan mengubah cara pandang, pola pikir, sikap, dan cara kerja yang konvensional menjadi aksi nyata yang lebih berdaya saing dengan berorientasi pada kemajuan teknologi namun sekaligus berkepribadian dalam ikatan budaya Indonesia yang kuat.

Pekan Kerja Nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental tahun 2019, yang diselenggarakan di Kalimantan Selatan ini digelar sejak tanggal 19 sampai dengan 21 september 2019. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.