Gelar Pelatihan Spiritual dan Kebangsaan, ITS Ajarkan Maba tentang Moderasi Beragama

Yovie Wicaksono - 1 August 2022

SR, Surabaya – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar Pelatihan Spiritual dan Kebangsaan (PSB) selama empat hari berturut-turut, mulai 1 – 4 Agustus 2022 untuk lebih mengembangkan kualitas mahasiswa baru (maba).

Dengan menghadirkan Tuanku Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi sebagai salah satu pemateri pada hari pertama, ITS mendorong maba untuk memahami akan pentingnya moderasi beragama di Indonesia.

Ulama yang sering disapa TGB ini menyampaikan di hadapan 1.300 maba ITS bahwa moderasi beragama merupakan hal yang penting, tetapi perlu adanya usaha dalam menerapkannya. Apalagi para maba ini hadir dengan berbagai latar belakang masing-masing. 

“Sehingga perlu memahami bagaimana menangani sesuatu sesuai dengan tempatnya,” ujarnya.

Oleh karena itu, imbuh TGB, di sinilah pentingnya posisi moderasi beragama yang baik dan benar. Menurut mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, moderasi atau orang yang moderat adalah sikap orang yang menangani segala sesuatu dengan proporsional. Dalam hal ini, yang dimaksud proporsional adalah harus berlandaskan prinsip adil dan berimbang sesuai dengan latar belakang tersendiri. 

Adapun tiga bentuk moderasi yang ditekankan oleh TGB antara lain adalah Muamalah yaitu hubungan antarmanusia atau hablum minannas. Bentuk ini meliputi hubungan sosial, teknologi, ekonomi, dan sebagainya. Pada bentuk ini, hubungan tersebut haruslah dapat dikembangkan tetapi harus sesuai dengan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. 

“Maka menjadi mahasiswa yang unggul merupakan salah satu penerapan moderasi beragama,” tandasnya. 

Kemudian, ada pula bentuk Akidah yaitu, mempercayai kepada rukun iman dalam Islam. Akidah sendiri merupakan landasan ajaran yang berfungsi menyelamatkan seseorang dari keyakinan-keyakinan yang menyimpang. 

Terakhir adalah bentuk Ibadah, TGB mengungkapkan bahwa bentuk ini tidak bisa diubah ataupun dikembangkan.  Hal ini karena meliputi prinsip yang telah ditetapkan seperti halnya salat.

Lulusan magister Universitas Al-Azhar, Mesir ini mengungkapkan, dengan luasnya keragaman di Indonesia, perlu usaha ekstra dalam menerapkan moderasi beragama. Hal ini dapat terwujud jika dibawa dengan semangat dan usaha maksimal dan optimal. 

“Maksimal adalah ketika berorientasi kepada hasil, sedangkan optimal adalah ketika proses,” ungkapnya.

Lebih lanjut, TGB menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang membangun, bukan merusak. Menerapkan moderasi beragama merupakan langkah awal dalam menanamkan komitmen menjadi pribadi yang berakhlak dan berintelek. 

“Tetap berprioritas untuk memberikan kebaikan ke lingkungan sekitar,” ujarnya memotivasi.

Pada kesempatan yang sama, Rektor ITS Mochamad Ashari turut memberikan semangat kepada para mahasiswa baru agar menjadi pribadi yang unggul, berintelektual, dan berakhlak mulia setelah berproses di kampus. 

“Maba ITS merupakan insan unggul di bidang teknologi dan pribadi akhlak mulia. Selamat dan semangat para pengendali bangsa,” tuturnya.

Sekadar informasi, seperti gelaran PSB tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini juga menghadirkan pakar ilmu intelektual dan spiritual lainnya sebagai pemateri, yakni  tokoh agama Muhammad Cholil Nafis, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Mohammad Nuh, Kasbudit Lingdik Direktorat Bela Negara Direktorat Jenderal (Ditjen) Pothan Kementerian Pertahanan RI Kol Mar Rachmat Djunaidy. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.