Evaluasi PTM di Surabaya. Apa Hasilnya?

Yovie Wicaksono - 20 January 2022
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat Meninjau Pelaksanaan PTM Hari Pertama, Senin (6/9/2021). Foto : (Humas Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya bersama sejumlah pakar menggelar evaluasi terhadap Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen, yang sudah berjalan selama sepekan lebih di Kota Pahlawan.

Hasilnya, sejumlah pakar yang diundang seperti Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo, Pembina Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Jawa Timur (Jatim) Estiningtyas Nugraheni, dan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim Dominicus Husada, sepakat PTM 100 persen dilanjutkan.

Kepala Dispendik Kota Surabaya Yusuf Masruh mengatakan PTM 100 persen tetap berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin.

Saat ini, belum ada laporan warga sekolah yang terpapar Covid-19 di lingkungan sekolah. Meskipun demikian, pihaknya secara berkala akan melakukan evaluasi bersama pakar epidemiologi, pakar kesehatan masyarakat, IDAI, serta guru dan tenaga kependidikan (GTK).

“Kami ingin orang tua merasa aman dan nyaman ketika menitipkan anak-anak di sekolah. Ini ikhtiar kami bersama untuk memberi layanan terbaik bagi anak-anak di Kota Surabaya,” kata Yusuf, Kamis (20/1/2022)

Sementara itu, Bidang Pengembangan, Penelitian & Pendidikan IDAI Jatim Dominicus Husada mengatakan, kebijakan PTM ini tetap dapat dijalankan di Kota Surabaya dengan kehati-hatian. Pihaknya belum melihat alasan yang cukup untuk memberi masukan agar PTM dihentikan.

“Kalau kasusnya melonjak, baru kita lakukan evaluasi kembali,” ujarnya.

Pakar Epidemiologi Unair Windhu Purnomo menambahkan, sejauh ini Indonesia tampak bagus dalam menghadapi Covid-19 varian Omicron. Pasalnya, di negara-negara lain, puncak kasus terjadi pada 40 hari sejak kasus pertama ditemukan. Seperti di negara-negara Afrika, Inggris, Amerika Serikat.

“Sedangkan di Indonesia, kasus pertama ditemukan pada pertengahan Desember. Seharusnya sekarang ini prediksi puncaknya. Tapi sekarang masih di bawah ambang batas bahaya. Jadi, kita tidak usah khawatir dengan Omicron, karena ini sudah seperti influenza biasa,” jelasnya.

Disisi lain, Pembina Persakmi Jatim Estiningtyas Nugraheni menyarankan revitalisasi Kampung Tangguh dan Kampung Wani Jogo Suroboyo sesuai dengan kondisi terkini dalam mendukung PTM.

Hal ini dapat membantu mensterilkan lingkungan sekolah dari para pedagang yang dilarang berjualan selama PTM berlangsung. Selain itu, setiap lembaga pendidikan harus memiliki penanggung jawab dan standar yang jelas untuk pelaksanaan PTM 100 persen.

“Yang paling penting menerapkan 3M dan tidak ada kerumunan. Kemudian ada Satgas Covid-19 dari unsur sekolah, RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan di mana lembaga pendidikan itu ada. Ini penting untuk membantu sterilisasi lingkungan sekolah,” tandasnya.(*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.