Erma Susanti Tetap Dibarisan Mahasiswa dengan Bersuara Kritis di Parlemen
SR, Surabaya – Derap langkah ribuan mahasiswa dan teriakan lantang di bawah terik matahari adalah ‘rumah’ pertama bagi Erma Susanti. Sebagai mantan aktivis mahasiswa yang tumbuh dalam keriuhan organisasi formal maupun informal, ia ‘kenyang’ dengan debu jalanan demi menyuarakan hak-hak rakyat.
Kini, alumnus Universitas Airlangga ini sudah terjun ke politik praktis dan diantar PDI Perjuangan dari daerah pemilihan Blitar – Tulungagung (Dapil 7 Jatim) menduduki kursi DPRD Jawa Timur. Erma tidak lagi berteriak melalui pengeras suara, melainkan bicara dalam ruang-ruang rapat gedung wakil rakyat, namun tetap membawa aspirasi masyarakat –utamanya wong cilik.
Bagi perempuan kelahiran Madiun 53 tahun lalu itu perpindahan dari jalur luar sistem ke dalam struktur pemerintahan bukanlah sebuah proses instan atau sekadar aji mumpung. Ia menegaskan bahwa transformasi ini merupakan buah dari proses panjang selama puluhan tahun bergelut dengan isu-isu kerakyatan.
Baginya, politik adalah pilihan ruang untuk melanjutkan perjuangan yang sama dengan cara yang berbeda; jika dulu ia menuntut perubahan dari luar, kini ia memiliki kesempatan untuk merumuskan perubahan itu sendiri di meja pengambil kebijakan.
Keputusan untuk terjun ke dunia politik formal membawanya menduduki posisi strategis sebagai Anggota Komisi B (Bidang Perekonomian) DPRD Provinsi Jawa Timur. Tidak hanya di ranah legislatif, dedikasinya dalam berorganisasi juga mengantarkannya memegang tongkat komando sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung. Di dua posisi inilah, ia menjahit kembali semangat aktivismenya ke dalam program-program yang lebih sistematis dan berdampak luas bagi konstituennya.
Meski telah menjadi bagian dari kekuasaan, Erma tak lantas ‘alergi’ terhadap kritik atau aksi demonstrasi. Ia justru menjadi salah satu sosok yang paling lantang mendukung gerakan mahasiswa yang tetap konsisten menyuarakan keadilan.
Baginya, dalam sebuah iklim demokrasi yang sehat, kelompok penyeimbang dari luar seperti mahasiswa adalah sebuah keharusan. “Jika penyeimbang itu tidak menyuarakan pendapatnya, maka demokrasi itu mati,” tandasnya.
Keteguhan prinsip ini ia tunjukkan saat baru-baru ini menerima kunjungan dari Aliansi BEM dan berbagai kelompok mahasiswa di kantor partainya. Ia berdiri bersama mereka untuk menguatkan sikap menolak wacana kebijakan yang dianggap mencederai semangat demokrasi, seperti penolakan terhadap mekanisme Pilkada melalui DPRD.
Langkah ini menjadi bukti konkret bahwa meski baju yang dikenakannya kini adalah seragam partai, nuraninya tetap terhubung dengan denyut nadi aspirasi kaum muda di jalanan.
Di bawah kepemimpinannya di Tulungagung, ia juga berusaha mengubah citra partai politik agar lebih dekat dengan generasi Z dan Milenial. Dengan menonjolkan identitas PDI Perjuangan sebagai partai ekologis yang peduli lingkungan serta tanggap terhadap bencana, ia berhasil menarik minat anak muda untuk tidak lagi menjauhi politik.
Erma ingin membuktikan bahwa partai politik bisa menjadi wadah ideologis yang keren dan relevan bagi mereka yang ingin melakukan perubahan nyata. Erma memberikan pesan kuat bahwa menjadi politisi bukan berarti kehilangan idealisme. “Perjuangan di parlemen hanyalah kelanjutan dari perjuangan di jalanan, di mana akal sehat dan daya kritis harus tetap tajam meski protokol dan aturan birokrasi kini melingkupinya,” pungkasnya. (js/red)
Tags: Aktivis mahasiswa, Dprd jatim, Erma Susanti, pdip, superradio.id, tulungagung
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





