Dunia Maya, Risiko Besar Dibalik Akses Tak Terbatas

Rudy Hartono - 23 May 2025
Relawan Mafindo Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Johannes William (berdiri dua dari kanan) dan Christina Della Muntiar (berdiri paling kanan) usai dialog di program Super Talk Show Super Radio 88.5 FM, Surabaya. Rabu (21/5/2025). (foto: diva/superradio.id)

SR, Surabaya – Bagi generasi muda, dunia maya bukan lagi tempat asing, ia sudah menjadi bagian dari keseharian.  Dari bangun tidur hingga malam menjelang, notifikasi, story, dan trending topic tak pernah berhenti mengalir.

“Di balik akses tanpa batas itu, risiko pun ikut membesar: mulai dari kelelahan digital, komentar netizen yang menyakitkan, hingga paparan hoaks yang menyesatkan,” kata Johannes William, relawan  Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Komisariat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Komindo UKWMS), saat dialog pada  program Super Talk Show Super Radio 88,5 FM, Surabaya (21/5/2025).

Menurut Jojo,panggilan akrab Johannes William, salah satu risiko   yang paling membuat “nggak waras” saat online adalah komentar netizen yang kelewat batas, bahkan sampai melakukan doxing.(pencurian informasi pribadi, –Red). Untuk itu, Jojo mengajak masyarakat untuk “saring sebelum sharing”, maksudnya menyeleksi kebenaran informasi sebelum menyebar luaskan informasi tersebut ke publik. “Ciri-ciri post hoaks biasanya punya narasi yang dilebih-lebihkan dan menyuruh kita untuk langsung share atau sebarkan,” jelas mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) angkatan 2023 UKWMS itu.

Jojo tidak sendirian saat talk show, ia ditemani koleganya Christina Della Muntiar. Ditambahkan Della,  untuk memeriksa kebenaran informasi apakah info tersebut hoaks atau bukan, masyarakat bisa menelusurinya melalui situs turnbackhoax.id. “Situs itu juga menjadi rujukan utama Komindo,” ungkap Della.

Tak hanya itu, Della juga menyuarakan pentingnya berhati-hati dalam menggunakan teknologi seperti artificial intelegence (AI). Diakui Della dan Jojo, bahwa merka ikut menggunakan AI, mereka selalu menulis ulang dan memverifikasi konten. “Kalau kita dapat info dari AI, jangan langsung telan mentah-mentah. Harus di crosscheck lagi,” pesan Della.

Sekelumit soal organisasi, Jojo menerangkan Komindo UKWMS merupakan komunitas relawan bagian dari MAFINDO yakni organisasi nirlaba yang fokus pada literasi digital dan anti-hoaks yang tersebar di Indonesia. Komindo UKWMS berdiri sejak 2021 ini menjadi pusat edukasi digital di kampus, dan turut menggencarkan semangat: saring sebelum sharing.

“Kami mengajak Kawan-kawan generasi muda untuk tidak sekadar aktif online tapi juga menjadi penjaga kebenaran,” kata Jojo. ”Dan ayo generasi muda tetap waras, aman, dan cerdas di tengah arus informasi yang tak pernah tidur,” timpal Della. (dv/red)

 

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.