Dua Anggota DPRD Sidoarjo Penasaran Kesejarahan Situs Pendem Wonokoyo

Rudy Hartono - 1 November 2026
Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo Pratama Yudiarto (5 dari kiri) dan anggota Komisi B DPRD Sidoarjo, H. Sulamul Hadi Nurmawan (6 dari kiri) hadiri Rembuk Budaya Sidoarjo bertajuk "Situs Pendem Dusun Wonokoyo: Antara Misteri dan Sejarah", Jumat (30/10/2026) malam.

SR, Sidoarjo – Komunitas Yuesby  bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sidoarjo dan Pemerintah Desa Kloposepuluh menggelar forum Rembuk Budaya Sidoarjo bertajuk “Situs Pendem Dusun Wonokoyo: Antara Misteri dan Sejarah” pada Jumat malam (30/10/2026).

Berlokasi di Dusun Wonokoyo RT 019 RW 005, Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, kegiatan ini dihadiri puluhan  warga, budayawan, akademisi, serta dua anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo guna membedah potensi sejarah dan pelestarian cagar budaya lokal.

Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Yuesby  Community, Muhammad Haris Darmawan, menyampaikan bahwa acara ini digagas untuk mengangkat keberadaan Situs Pendem yang ramai diperbincangkan di media sosial agar mendapat perhatian resmi dari pemerintah daerah.

“Situs Pendem Wonokoyo ini ternyata sangat viral di sosial media. Kami coba mengangkat ini siapa tahu menjadi sesuatu yang spesial di Wonokoyo, bisa jadi ikon dan perhatian Pemkab Sidoarjo,” ujar Haris.

Situs Pendem

Kepala Desa Kloposepuluh, H. Sumardi, S.H., turut menyambut baik inisiatif warga dan berharap forum ini menghasilkan rekomendasi konkret bagi perlindungan objek bersejarah tersebut.

“Pas kebetulan di Wonokoyo memang ada yang namanya Mbah Pendem. Mudah-mudahan ini nanti bisa menginspirasi bahwasanya di Wonokoyo ada situs budaya yang sangat tinggi derajatnya,” kata Sumardi.

Dari sudut pandang sejarah dan arkeologi, pendiri Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, dr. Sudi Harjanto, memaparkan temuan bahwa wilayah Desa Kloposepuluh telah tercatat dalam manuskrip kuno sebagai Desa Kalupuan sebagaimana termuat dalam Prasasti Kencana. Ia menegaskan pentingnya pembuktian ilmiah ketimbang sekadar narasi mistis untuk menetapkan status cagar budaya suatu lokasi .

“Desa Kloposepuluh ini sudah ada di masa lalu dengan nama Kalupuan yang tercatat dalam Prasasti Kencana. Untuk membuktikan Situs Pendem ini cagar budaya, perlu ada ekskavasi dan kajian ilmiah, bukan sekadar cerita mistis,” tegas Sudi.

Sementara itu, Perwakilan Departemen Cagar Budaya Dewan Kesenian Sidoarjo, Ki Iwan Agung Prasetyo, mengungkapkan hipotesis bahwa Situs Pendem Wonokoyo berkaitan erat dengan pusat peribadatan atau kawasan pendidikan kuno (kedewaguruan) era Kerajaan Medang.

Warga Desa Wonokoyo ajak budayawan, sejarahawan menyimak diskusi Situs Pendem :Antara Misteri dan Sejarah” pada Jumat malam (30/10/2026).

“Bisa jadi Situs Pendem ini salah satu peninggalan untuk tempat peribadatan atau bagian dari sistem pendidikan kuno kedewaguruan. Ini perlu diteliti lebih lanjut,” ungkap Iwan. Menurutnya, letak situs yang berada di koridor aliran sungai kuno semakin menguatkan indikasi adanya pemukiman dan pusat peradaban masa lalu di wilayah tersebut.

Dukungan juga mengalir dari lembaga legislatif. Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo, H. Pratama Yudiarto, S.H., menyatakan komitmennya dalam memfasilitasi kegiatan seni budaya serta mendorong Dinas Pendidikan agar mengarahkan kegiatan wisata edukasi sekolah ke cagar budaya lokal.

“Saya dan rekan-rekan di DPRD Kabupaten Sidoarjo sangat memfasilitasi pelaku seni budaya. Wisata seni budaya di Sidoarjo harus kita lestarikan dan kembangkan agar dikenal oleh generasi penerus kita,” terang Pratama. Ia menambahkan bahwa generasi muda Sidoarjo harus mengenal sejarah daerahnya sendiri agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman.

Dari aspek ekonomi dan tata kelola aset, Anggota Komisi B DPRD Sidoarjo, H. Sulamul Hadi Nurmawan, menekankan pentingnya peran negara dan pemerintah desa dalam mengelola situs yang berdiri di atas tanah negara agar membawa dampak ekonomi nyata bagi warga.

“Tantangan kita bersama adalah bagaimana menjaga budaya, dan peranan negara tidak bisa dilepaskan. Di Komisi B, pertanyaannya adalah apakah situs ini mampu menggerakkan putaran ekonomi bagi warga sekitar,” jelas Sulamul. Ia mendorong agar kawasan situs dikembangkan secara terencana sehingga mampu menghidupkan UMKM dan perekonomian masyarakat lokal.

Rembuk budaya ini ditutup dengan kesepakatan bersama antara warga, pengurus desa, dan budayawan untuk menindaklanjuti pemetaan geolistrik serta mengajukan permohonan ekskavasi resmi ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Trowulan.

Dengan terbukanya akses jalan dan status lahan yang berada di atas tanah negara seluas 25 meter persegi, masyarakat Dusun Wonokoyo optimistis Situs Pendem dapat segera ditetapkan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) sekaligus destinasi wisata sejarah unggulan Sidoarjo. (js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.